Wednesday, August 20, 2008

pengemis

Salah satu hal yang saya senangi dari Bangkok adalah bersih, nggak banyak pengemis, pengamen dan pedagang asongan. Walaupun ada beberapa, mereka sangat sopan dan tidak memaksa seperti di Indonesia. Mereka hanya duduk dan menunggu, nggak pakai ngeyel apalagi sampai membututi (pernah lho, mobil saya diludahi pengemis di lampu merah di Jakarta gara gara tidak memberi uang. haduh.. sakit hati rasanya).

Pernah hmmm sudah lama sih, tahun lalu. Untuk pertama kalinya saya melihat orang kulit putih mengemis di Bangkok, di depan Central Chitlom. Saya pikir albino, dari kejauhan. Ternyata beneran bule. Gila ya, para expat benar benar ingin menguasai ladang kerjaan orang lokal :-P. Dan sewaktu iseng saya ketemu ini untuk liputannya.

Baru baca di Bangkok Post hari ini kalau keberadaan pengemis akan lebih diatur. Nggak sembarangan orang bisa jadi pengemis. Mereka harus memenuhi persyaratan tertentu, baru kemudian mengajukan lamaran untuk menjadi pengemis dan mendapatkan ijin kerja. Keren ya, pakai working permit gitu.

Oh ya jadi inget lagi, sewaktu liburan di Bali kemarin kita sempet ketemu pengemis juga. Sempet ambil fotonya pula. Pola-nya sama seperti dimana mana, yaitu memakai anak kecil sebagai pembelas kasihan. Melas banget sih kelihatannya, soalnya si anak sampai makan pasir karena kelaparan. Lihat deh, fotonya :


"Mister...mister!!! Money...plese. Me and my mommy hungry.. no food last 4 days"

Monday, August 18, 2008

aroma bangsa-bangsa

Disclaimer : postingan di bawah ini tidak bermaksud menjelek jelekan suku dan ras tertentu tapi hanya sekedar sedikit membagi cerita tentang bau.

Walaupun pesek, hidung saya lumayan sensitif terhadap bau bau-an terutama yang dikeluarkan oleh tubuh. Bukan... bukan bicara tentang kentut. Bagi saya bau kentut adalah aroma yang universal, tanpa membedakan suku, ras dan agama pada umumnya bau-nya sama saja :-P. Namun ada be-bau-an khas lain yang dikeluarkan oleh tubuh, yang sering tanpa melihat saya tahu dari mana si pemilik bau berasal.

Bau Arab
Hmmm.. orang Arab yang saya endus di Bangkok (para tamu hotel, turis dan pasien di Bamrungrad) bau parfum. Benar lho, dari jauh sudah terbawa angin bau wangi parfum yang berlebihan. Dan tidak lama kemudian biasanya lewat rombongan Arab lengkap dengan abaya hitam hitam-nya.


Bau Bule

Waktu kecil dulu, saya sekolah di SD Khatolik. Salah satu Bruder-nya (let's say Bruder X), orang Londo (Belanda maksutnya :P) dan seminggu sekali mengajar suling dan biola. Bruder X yang memakai sepeda sebagai alat transportasi selalu berkeringat setiap kali mengajar. Saya sebagai murid yang baik dan selalu (terpaksa) duduk di barisan paling depan, terpaksa mencium aroma bau badan Bruder yang hmmm... sulit digambarkan tapi mungkin ini yang disebut bau bule. Campuran antara bau keringat, sedikit asam keju ditambah wine/alkohol basi. Kebayang nggak?

Selanjutnya, saya sering meng-endus bau yang sama setiap berada disekitar orang bule. Terutama para bule yang mungkin membawa kebiasaan jarang mandinya ke negara iklim tropis. Lucunya saya sama sekali nggak mengendus bau bule pada suami saya. Mungkin karena suami saya sering mandi atau mungkin hidung saya tertutup oleh cintaaaa... :-P

Bau Cina
Tadinya saya nggak pernah tahu bau Cina, sampai akhirnya kita tinggal di Cina. Orang Cina yang tinggal di mainland sana mempunyai dua macam bau. Pertama, bau aroma mulut yang bisa tercium dalam radius 3 meter saat bercakap cakap. Bau-nya merupakan gabungan dari bawang putih dan kol busuk yang berasal dari perut. Menjadi lebih parah lagi apabila malam sebelumnya mereka banyak minum alkohol. Duh, saya sempat bertanya tanya apa orang Cina nggak suka ciuman dengan pasangannya ck..ckck...

Oh ya, kedua bau yang berasal dari badan. Ini biasanya terjadi saat musim dingin. Saya mengerti, tidak semua orang mempunyai fasilitas air hangat dirumahnya. Sehingga mereka jarang mandi saat musim dingin. Hanya huaaa... baunya saya tidak tahan.

Untuk menghindari bau, sewaktu tinggal di Cina kita sangat anti naik taksi. Saya lebih memilih jalan kaki dalam hujan dan salju serta kedinginan daripada naik taksi bau.


Bau India
Katanya orang India bau kelek. Saya kurang percaya, sampai akhirnya kita pindah ke Bangkok. Di Bangkok banyak orang India, baik turist maupun para imigrannya. Dan memang, kebanyakan dari mereka bau kelek.

Efek dari makanan India yang kaya akan rempah rempah merupakan penyebab bau kelek. Hmmm.. kok bisa ya. Untung aja manusia keleknya cuman dua, coba kalau empat. Kebayang nggak gimana baunya? (garink.com)

Bytheway, walaupun nggak sering tapi saya suka makanan India. Untung di saya efeknya hanya perut kembung dan bau universal (baca: buang angin) sesudahnya, bukan bau kelek.


Bau Papua
Nah, bau yang satu ini benar benar nggak bisa digambarkan. Yang pasti bau-nya tajam menyengat bisa di-endus dari radius 10 meter bahkan lebih saat terbawa angin. Bau badan ini terutama dimiliki para penduduk asli-nya yang masih tertinggal di pedalaman. Saya nggak ngerti, ini berasal dari makanan yang mereka makan atau karena jarang mandi.

Sempat apes sewaktu saya tinggal di Timika, Papua. Iya, saya memang anti angkutan umum bau. Suatu saat saya kesiangan. Teman baik hati yang biasanya memberi saya tumpangan ke kantor sudah lebih dulu berangkat. Mau berjalan kaki, saya sudah sangat terlambat. Akhirnya saya menyetop angkot pertama yang lewat.

"Amann.....yay!!!", pikir saya sambil bernafas lega. Angkotnya kosong dan saya terbebas dari bebauan Papua yang akan membuat perut kosong saya mual.

Namun apes nggak dapat ditolak, di tikungan berikutnya angkot saya distop serombongan penduduk asli lengkap dengan anak anak-nya yang sedang ingusan :-( . Huaaaa!!!

***********************

Ternyata benar ya peribahasa yang kita pelajari jaman SD dulu "Lain padang lain belalang, lain bangsa lain pula bau-nya" :-P.

Oh ya, efek positif dari sering berada di sekitar sumber bau membuat saya menguasai tehnik menahan napas panjang dan bernapas (dalam lumpur) dengan mulut. Nggak mungkin khan saya menutup hidung terus terusan. Bisa tersinggung nanti si biang bau hehehehe.

Oh ya lagi, di bawah ini adalah gambar yang berhubungan dengan bau-bau-an yaitu aroma universal. Nggak jelas siapa si sumber penyebar aroma (yang jelas bukan si pemotret), tapi terlihat disini Leonz telah mendalami tehnik bernapas dengan mulut (perhatikan, mulut Leonz terbuka) sedangkan Leah masih memakai cara lama yang kurang sopan yaitu menutup hidung.



Ah ya, yang terakhir. Ada yang mau menambahkan be-bau-an yang lainnya, anyone? :-)

nongkrong strategis

Leonz mencari tempat nongkrong baru yang harus asik, yang harus memenuhi persyaratan antara lain : tidak terlalu jauh dari rumah, harga terjangkau untuk kantong "abg tanggung", dan yang terpenting asik buat melihat dan dilihat abg cantik (dan lelaki ganteng tentunya, agar mommy nggak bosen nemenin hohohohoho).

Maka dimulailah pencarian :

1. Starbuck Amarin Plaza
Ditemani seluruh keluarga. Tempatnya asik dengan sofa empuk, tapi sayang lokasinya terlalu jauh rumah, setopan ketiga setelah Phayathai BTS ditambah jalan sedikit.

Next....



2. Bakery Rumah Sendiri

Dibawah pengawasan para ibu dan bersama Leonz's best buddy, Luke the Duke ( mereka menamakan dirinya "the dude" and "the duke" ). Bakery rumah sendiri sudah jelas makanannya nyummy, lokasinya di pekarangan rumah sendiri sehingga tidak perlu keluar rumah. Tapi sayangnya: satu nggak ada abg cantik yang lalu lalang dan kedua... (ini gawatnya) semua staff di bakery rumah sendiri kenal dengan mommy dan daddy. Akibatnya nggak bisa melakukan tindakan yang memalukan (baca: lompat lompat sembarangan, lempar batu ke kolam, kejar kejaran naik turun tangga, semburan semburan pake sedotan, dan tingkah laku minus lainnya).

Mommy selalu bilang, "Mas Leonz,... please behave bla..bla..bla....!". Jadi lebih baik mencari tempat di luar rumah sendiri :-P.

Selanjutnya .....

3. P & F Coffee, dekat rumah sendiri


Masih ditemani the Duke. Lokasinya perfect. Hanya dua ratus langkah gede-gede (kalau saya nggak kelewatan menghitungnya :P) dari rumah sendiri, di pinggir jalan besar, dengan dua kursi empuk mungil di pojokan, dapat melihat (dan dilihat tentunya) dengan jalan ke jalan raya, dan banyak abg cantik lalu lalang. Pas banget, katanya Leonz lho. Walaupun nggak ada makanan kecil tapi minumannya nyummm.

Yesss... we found the place!

Friday, August 15, 2008

tentang ASD dan anak ganteng saya

Have you ever wondered why:
Some children don’t answer when you talk to them.
Some children don’t talk at all, even though they are big and at school.
Some children talk only about dinosaurs or space.
Some children flap their hands or twirl around.
Some children play with string or other funny things.
Some children don’t go away even when you ask them to.
Some children walk round and round the playground all by themselves.

These children may have an Autism Spectrum Disorder (ASD).

An Autism Spectrum Disorder (ASD) occurs when a baby’s brain develops a little differently before of just after they are born. The brain processes or interprets information differently.

People who have an ASD have difficulty communicating and learning how to be friends with other people. They often want things to be the same and may need to do things in exactly the same way every time.

People who have an ASD also sense things differently from many other people. Loud noises, like the school bell, can hurt their ears and they may not like the way certain things feel. They may like to stare at leaves moving in the trees but hate the swirling lights at the school disco. They may only want to eat exactly the same things or they may not like the way some food smells. People who have an ASD are different from each other just like us, we are different each other too.

Some people who have an ASD can talk, but they usually expect you to say exactly what you mean, if you say “Jump to it!” when you mean “Hurry up,” the child who has an ASD will probably start jumping.

Other people, who have an Autism Spectrum Disorder, use pictures or photographs to communicate with other people.

Some people who have an ASD can do their school work quickly, while other people find it difficult to learn to read and write. Some people who have an ASD want to be alone while others want to have friends, but don’t know how to make them.

There are different types of Autism Spectrum Disorder, which have different names; these include Autism and Asperger’s Syndrome.

An ASD is something that people have all their lives. However, as they grow they learn more and more about the world. Many people who have an Autism Spectrum Disorder will have a job and live independently when they grow up.

diambil dari : http://www.gvoness.com

...... dan Leonz, si anak ganteng saya adalah salah satu penyandang ASD. Walaupun dia berbeda dengan anak anak normal pada umumnya namun kita mencintai dia apa adanya, sepenuh hati. Nggak ada salahnya terlahir sebagai "orang yang berbeda dari kebanyakan" karena toh setiap individu adalah unik.



Saturday, August 9, 2008

roll rambut

"Huaaa ntar kalo loe jadi istrinya udah deh siap siap aja. Tinggal di komplek aparat, trus tiap pagi belanja sayur di depan rumah sambil ngobrol sama tetangga dengan rambut di roll serta dasteran ....hihihi!", goda teman saya diiringi tawa sepuas puas-nya long long time ago. Saat itu saya berpacaran dengan mas penegak hukum.

Walaupun pada akhirnya saya nggak berjodoh dengan mas penegak hukum, nggak tinggal di komplek aparat, nggak berbelanja sayur di depan rumah sambil ngobrol dengan tetangga, dan nggak dasteran yang pasti (suami saya adalah lelaki anti liat istri dasteran :-P) ..... tapiiii kenyataannya saya tetap memakai roll rambut.

Rambut saya halus dan cepat lepek. Supaya (saya terlihat cantik-an dikit) lebih indah mengembang alami setiap saat dan terutama saat kondangan, saya selalu menggunakan roll rambut setelah mandi. Semakin penting acara yang akan saya hadiri, semakin banyak roll rambut yang saya pakai.

Selain mempercantik diri, roll rambut juga berguna sebagai "mommy going out indicator" untuk anak anak saya. Empat roll rambut di kepala, Leonz dan Leah masih tenang. Namun, bila saya memasang sepuluh roll rambut Leonz terlihat panik dan mulai unjuk rasa "don't go mommy!!" sementara Leah selalu mengikuti saya dari belakang sambil berulang kali menunjuk roll rambut saya sambil berkata "uhg..ugh!" dengan bibir manyunnya.

Bicara tentang rambut ibu ibu, sadar nggak kalau di Indonesia (dan di Thailand ternyata juga lho) terutama di kalangan pemerintahan, rambut juga berfungsi sebagai "status indicator". Perhatiin deh, semakin tinggi jabatan suami maka semakin tinggi pula sasakan rambut sang istri :-P !

Thursday, July 31, 2008

a girl in red shoes

Some people feel sexy after loads of booze,
some are more confident with really big boobs,
but for me, I feel sexy with my new red shoes.

I know, I have quite chubby legs,
but my mommy says I am the sexiest baby girl that she's ever had.

Yes, I am the 9 months old "new walker" baby in style
and sometimes still fall down on the floor tiles :-).



Bkk, July 2008
for our sexy new walker

Sunday, July 27, 2008

immigrant gelap

Sudah pernah tersangkut masalah imigrasi? Saya baru mengalami dan sempat dibuat panik. Terjadi saat pulang liburan dari Bali kemarin, saat tiba di loket pemeriksaan imigrasi bandara Bangkok.

Pengalaman teman teman saya, anak mereka yang lahir di Thailand tidak membutuhkan visa tinggal di Thailand. Cukup memperlihatkan akte kelahiran setiap keluar masuk Thailand. Tapi mungkin dasar sedang dalam rangka hari apes, kenyataan yang saya alami beda.

+ : "Baby no visa. Baby only stay 1 month", kata bapak imigrasi sambil tersenyum manis.

- : "But our baby was born in Thailand. She doesn't need visa. This is her birth certifate", kata saya yakin. Sementara suami saya mulai pasang wajah kuatir.

+ : "Hmm.. let me see", terus senyum tapi muka nggak yakin. "Hmm.. I will asking supervisor", sambil mengutus koleganya pergi bersama paspor dan akte kelahiran Leah

saya dan suami menunggu dengan (terpaksa) sabar dan deg deg-an sementara Leah dan Leonz mulai melancarkan aksi demo sampai 10 menit berikutnya, ketika si kolega kembali.....

+ : "No, baby stay one month only!", jawab pak imigrasi dengan senyuman yang tambah lebar sambil dengan mantapnya memberi stempel di pasport Leah -- stay until 18th August!

- : "Are you sure? All my friends babies never have a problem entering and exit Thailand because they were born here ", saya mulai keukeuh surekeuh ala ibu ibu

+ : " Hummm I don't know. You go Immigration office at Sathorn and you can ask", masih dengan senyum lebar.

Duh, mau marah rasanya. Untung si bapak immigrasi cukup sabar dan obral senyum. Sekarang kita yang lumayan bingung. Tau sendiri negara asia yang hukum-nya agak agak kabur (nggak jelas). Kalau di negara sendiri masih gampanglah, secara saya mantan orang hukum(an) hohoho. Tinggal cari hukum tertulisnya dan taati. Lah disini, baca tulisannya aja susah nggak bisa gitu kok :-( .

Akhirnya saya dan suami mulai mengatur segala kemungkinan langkah selanjutnya :

Alternatif no.1 saya dan Leah pulang ke Jakarta, apply non immigrant visa dari Kedutaan Thailand di Jakarta. Tadinya saya suka ide ini bisa pulkam dan makan enak, tapi.. haduuh rasanya berat ninggalin mas mas berdua :-P. Lagipula jadwal syuting dan pemotretan saya penuh sampai tanggal 18 nanti hohohoho.....

Alternatif no.2 Leah pulang ke Jakarta sendirian (dengan pesawat tentunya, duduk sendiri dikalungi empeng dan name tag "Leah Willimann from Bangkok") dijemput Oma Opa di bandara dan apply non immigrant visa dari Kedutaan Thailand di Jakarta.

Kedua alternatif cukup ok, tapi secara ekonomis nggak ok. harga tiket Thai Airways naik hampir 70%. Kemudian terbersit kemungkinan selanjutnya yang secara nilai ekonomi lebih murah :

Alternatif no. 3 mengirim Leah sendirian (teteup dengan empeng dan name tag identitas diri di leher plus zippi cup in case kalau haus) bersama rombongan pencari visa instant ke Laos atau Cambodia dengan van atau truck bak terbuka (biar tambah murah) dan masuk lagi ke Thailand dengan visa tourist untuk satu bulan berikutnya.

Humm... alternatif no.3 mungkin lebih murah. Tapi nggak memecahkan masalah. Teteup nggak bisa tinggal lama. Setiap bulan harus keluar dari Thailand.

Akhirnya, dari browsing di internet (walaupun sebelumnya telah tanya sana sini, termasuk pada pihak yang berwenang dan kita nggak dapat jawaban yang pasti. Lucu deh... kok ada peraturan tanpa kepastian gini) kita baru tahu ternyata "anak berkewarganegaraan asing akan dikenakan denda overstay setelah mereka berumur 7 tahun". Artinya, Leah nggak bakal dikenakan denda walaupun dia overstay sampai 6 tahun ke depan.

Dari situ terpikir alternatif berikut ini :

no. 4 yaitu cuek bebek tinggal overstay di Thailand toh dia tidak akan dikenakan biaya overstay ini dan baru mengurus non immigrant visa saat ada waktu nanti. Efektif secara waktu dan ekonomi, tapi lumayan beresiko (takut Leah terjaring razia dan tiba tiba harus dideportasi...huaaaaa).

no. 5 yaitu penerapan dari alternatif no.4 didukung strategi baru yaitu penyamaran untuk menghindari razia (tuh khan, baru ingat. Saat melewati loket immigrasi bandara Thailand kita semua harus difoto). Jadi, saat bersama Leah setiap melihat petugas imigrasi saya akan mengadakan aksi tutup mulut agar tidak ketahuan bila saya adalah orang asing. Untuk sementara waktu nama Leah diganti menjadi Pui agar terdengar lebih Thai ... hehehe :-P, mengubah warna dan tatanan rambut Leah jadi hitam kriwil kriwil hair extention, kumis dan kacamata item.... perlu nggak?

Hmmm.. puup! Sampai sekarang sebenarnya kita masih bingung dan belum dapat jalan keluarnya. Ada yang pernah punya masalah sama di Thailand?! Sharing dong....




lastest up date :
- ada yang baru kasih masukan (masih kita cari kebenarannya :P) Leah nggak perlu keluar Thailand untuk apply non immigrant visa. "Yayy!!!" ... kalau memang bener lho dan "puup!!" kalo ternyata nggak bener.

- Le... ups maksud saya Pui baru berumur 9 bulan dan sudah bisa jalan, yayyy!!! Cukup suprise juga kita. Lucu deh, seperti boneka kecil di batterey-in... jalan mondar mandir keliling apartemen :-)


Friday, July 25, 2008

puup

Takut anak anak terbiasa mendengar kata umpatan yang disengaja maupun tidak, saya dan suami saya sepakat untuk merubah vocabulary umpatan kami jadi lebih sopan .

Shit diperhalus jadi puup.

"What a (shitt) puup!"
"The place it's soo (shitty) puupish!!

Sounds better :-)

Monday, July 21, 2008

cerita mudik

Hey all, saya sudah kembali lagi. Tadi malam kita sampai akhirnya. Setelah tertahan dua kali urusan imigrasi, keluar dari Indonesia dan saat masuk Bangkok :-( . Nanti deh saya cerita kapan kapan bagaimana detailnya.

Terima kasih buat yang sudah pada sabar bolak balik mengunjungi blog ini selama saya mudik (kege-eran.com). Banyak banget lho rasanya yang pengen saya bagi dari mudik kemarin. Yang pasti selain bersenang senang saya juga dapat banyak pelajaran dari mudik kemarin.

Mudik kemarin tujuan utamanya adalah Dolphins therapy untuk Leonz di Lovina. Kenyataannya : therapy session pertama berhasil. Leonz cukup coorperative. Session selanjutnya..... a complete disaster. Trantrum besar besaran yang nggak pernah kita lihat sebelumnya. Leonz tertekan dan itu nggak bagus. Akhirnya therapy kita hentikan pada hari ke tiga.

Disini saya dan Stefan baru melihat sisi lain dari Leonz. Yang membuat kita belajar lebih sabar menghadapi Leonz, berusaha menempatkan diri saya di posisi Leonz dan berusaha tebal muka tentunya hehehe.... secara saat tantrum suara tangisan Leonz membahana di seluruh komplek resort.

Leonz saat therapy session pertama :




Papa, mama, adik dan keponakan saya sempat terbang ke Bali untuk berlibur beberapa hari bersama kami.



Bahkan dikunjungi oleh ibu satu ini. It was fun lho Ga, thanks!


Saat stay di Lovina, kita sempet melihat Brad Pitt - Angelina Jolie sekeluarga bermain di pantai. Sempet iseng kita foto, diem diem tentunya. Mumpung mereka tidak didampingi para body guard.




Setelah sepuluh hari di Lovina, kita pindah ke Nusa Dua. Pantainya lebih bagus yang pasti, walaupun para pedagang asongan di pinggir pantai lumayan gigih menawarkan barang dagangan.


"mister... misterrr... buy sandals. buy the left side, i give u free the right side!"

Di Bali saya sering melihat pemandangan orang mencari kutu secara tandem. Si Ibu asik mencari kutu anak yang besar, sementara anak yang besar sibuk mencari kutu rambut adiknya. Sempat melihat kegiatan yang sama di pantai di Nusa Dua. Ayah dengan dua anak kali ini :-P.


Oh ya, ada satu lagi yang sedikit mengganjal hati saya tentang Indonesia. Terbiasa tinggal di Negara yang bebas asap rokok membuat saya merasa terganggu melihat orang orang yang tanpa merasa canggung merokok disamping bayi dan anak anak.

Plus satu lagi. Terakhir kali mudik, orang orang memanggl saya dengan "mbak..mbak!". Mudik kali ini, mereka memanggil saya dengan " Bu,... bu!". Memang jaman sudah berubah ya... ck..ck...

Thursday, July 3, 2008

mudik

Yayyy...... kita sekeluarga mau pulang mudik ke Bali! Dari tanggal 6 sampai 20 Juli ini. Iya, saya memang bukan berasal dari Bali. Tapi Bali khan ada di Indonesia, jadi hitung hitung mudik ke Indonesia :-P.

Mudik kali ini rasanya berbeda. Ini akan jadi mudik pertama kali buat Leah untuk menjejakkan kaki dan menjatuhkan iler ngences-nya (yoi, Leah lagi teething gigi ke 3 dan 4 kayaknya. Kenapa dijelasin, soalnya saya ibu ibu. Dan ini blog-nya ibu ibu :-P) di Indonesia.

Mudik kali ini adalah pertama kali-nya anak anak saya masuk ke Indonesia sebagai Warga Negara Indonesia. Tidak perlu lagi mengantri Visa on Arrival seperti biasanya (ummm.. masih ding, suami saya masih butuh visa). Nggak sia sia penantian selama lima bulan dan wira wiri ke KBRI mengurus kewarganegaraan anak saya.

Mudik kali juga merupakan combine antara liburan dan treatment. Liburan leyeh leyeh sekaligus Leonz akan ikut dolphin therapy. Leonz anak ganteng saya, autistic. Nanti lain waktu saya akan cerita dan sharing tentang suka dukanya mempunyai anak special need seperti Leonz.

Ah ya karena tidak akan ke Jakarta, orang tua dan adik saya akan bergabung berlibur di Bali untuk beberapa hari.... yay!!! Bahkan ibu satu ini akan ikut juga mengunjungi saya di Bali nanti. Menyenangkan.

Saya juga mengalami PMS (pre-mudik-syndrome).beberapa hari terakhir ini. Berbelanja oleh-oleh, menyiapkan Leonz supaya nggak kaget nanti dengan "berenang bersama lumba-lumba", berbelanja berbagai peralatan lenong mudik yang seabrek-abrek, juga berdiet agar bisa makan banyak nanti saat liburan.

Bukan hanya saya saja lho, Leonz dan Leah juga. Leonz selalu senyum dan tampak girang melihat gambar pantai dan Leah....katanya sudah nggak sabar untuk memakai bikini dan berjemur. Sementara suami saya seperti biasa selalu bilang "I hate flying... but looking forward for the holiday".

Hampir lupa nih, blog saya juga akan ikutan libur selama saya di Bali. Nanti saya akan menulis lagi setelah liburan. Jangan lupa datang kembali berkunjung ke sini 2 minggu lagi ya!