Showing posts with label mixed family story. Show all posts
Showing posts with label mixed family story. Show all posts

Monday, January 5, 2009

cappuccino dengan extra susu

Waktu kecil, kulit saya hitam. Sempat sekolah di SD yang sembilan puluh sembilan persen muridnya adalah warga keturunan yang pasti berkulit terang. Jadilah saya murid tergelap di kelas. Bahkan sering dipanggil "hitam", dalam bahasa ibu mereka tentunya.

Beranjak remaja, kulit saya tetap gelap. Kadang iri melihat para teman wanita yang berkulit putih bersih banyak dipuja teman pria. Dan berhayal bagaimana rasanya memiliki wajah cantik -kulit putih idaman para pria.

Memang dasar berkulit gelap, saat dewasa warna kulit saya tidak berubah. Definisi wanita cantik menurut kebanyakan pria asia adalah putih, langsing dan berambut panjang. Nggak heran jarang sekali saya punya pacar.

Tapi Tuhan itu adil. Setiap orang diciptakan berpasang pasangan. Walaupun berbeda warna kulit. Maka saya, si kulit "cappuccino" bersuamikan dia, si kulit "putih susu".

Ternyata kulit "cappuccino" yang biasa biasa saja bagi bangsa asia adalah cantik bagi bangsa kulit "putih susu". Demikian juga sebaliknya.

Jadi terpikir anak anak saya. Warna kulit mereka adalah "cappuccino dengan extra susu". Mudah mudahan mereka nggak merasakan apa yang dulu saya rasakan dan memang warna kulit tidaklah terlalu penting.

Saturday, November 29, 2008

jadi istri bule

Mau tahu apa yang saya pikir tentang para wanita yang menjadi istri bule sebelum jatuh cinta dan menikah dengan suami saya? Iya,.... betul!! Saya sempat berpikiran sempit tentang mereka.

Dan ternyata saya salah.

Waktu dan pengalaman membuat saya lebih dewasa (sok-bijak mode on :-P). Setelah enam setengah tahun menikah dan berkembang biak membelah diri menghasilkan Leonz Leah beranak pinak dengan mas bule, berpindah pindah tempat tinggal dan bertemu dengan bertemu dengan sesama wanita Indonesia yang menikah dengan pria berbeda planet bangsa, merubah pandangan saya.

Tidak semua wanita yang menjadi istri bule adalah perempuan nakal sebelumnya. Tidak semua yang menjadi istri bule, tidak berpendidikan. Tidak semua istri bule menikah hanya atas dasar ekonomi. Dan tidak semua wanita yang menikah dengan bule, secara fisik memiliki kulit gelap dan berwajah eksotik (walaupun saya salah satunya) hehe...

Mereka (termasuk saya tentunya) hanya wanita biasa yang berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Yang mungkin karena takdir jatuh cinta dan berjodoh dengan pria berbeda bangsa dan budaya.

Tentu saja banyak hal menarik dari hidup kami. Ingin tahu? Saya akan mengarang berdasarkan pengalamanbercerita lebih banyak lagi di sini !

Friday, October 24, 2008

tentang ras

Pernah nonton film futuristik nggak? Walaupun bukan jenis film kegemaran saya, tapi terkadang saya ikut (terpaksa) menemani swami nonton star war, enterprise, star war dan sejenisnya. Di film film tersebut sering digambarkan manusia ataupun karakter seperti manusia bukan hanya berbeda warna kulit, hitam, putih dan coklat, tapi juga berbeda dalam bentuk. Ada yang berbentuk setengah binatang bahkan setengah mahluk planet setengah manusia biasa. Walaupun tentu saja ada yang menjadi karakter yang jahat, tapi digambarkan mereka hidup berdampingan seperti biasa. Tidak takut dan asing melihat bentuk bentuk karakter yang berbeda beda.

Di kehidupan nyata tentu saja berbeda jauh. Waktu kecil dulu dan belum terbiasa melihat orang putih, saya suka ikut terbengong bengong melihat bangsa bule yang menurut saya saat itu.... wah putih dan tinggi banget (sumpah, saya nggak ikutan nyorakin "bule...! bule!!!" hehehe). Belum lagi, kok bisa ya.... hidung mancung begitu. Atau mencuri curi pandang penuh rasa penasaran ke tetangga ujung jalan asal Papua yang hitam dan keriting.

Menikah dengan swami yang berbeda ras, suku dan bangsa, membuat saya tadinya ikut merasa nggak nyaman saat suami saya diteriaki "bule.. bule!!" dan merasa jengah saat orang berbisik bisik "ono londo" sambil menunjuk suami saya atau saat keluarga suami mencuri curi pandang dengan tatapan penasaran ke saya (sang mahluk eksotik dari asia) ketika mudik pertama kali ke kampung suami. Namun seiring dengan perkembangan waktu serta pengalaman tinggal di negara yang mayoritasnya berbeda dan selalu memandang aneh-ingin tahu-penasaran ke orang yang tampak berbeda , membuat urat nggak nyaman saya putus. Saya terbiasa dan cuek pada akhirnya.

Produk yang menarik dari perkawinan antar ras adalah anak. Anak anak hasil perpaduan tersebut kebanyakan terlihat menarik secara fisik. Orang senang menilik nilik apakah si anak mirip ayah atau ibu, lebih cenderung asia atau caucasian.

Ada yang tahu nggak sebutan bahasa resmi untuk jenis ras campuran tersebut. Pernah saya bingung mengisi formulir di Imigrasi kita untuk Leonz. Bingung, di kolom pilihan isian tentang ras. Ingin mencontreng "caucasian" rasanya bukan deh. "Asia" juga nggak seratus persen. Akhirnya kita menambahkan kolom sendiri , "eurosian".

Saya sempat berpikir anak yang ayah dan ibunya berasal dari dua ras yang berbeda akan terbiasa melihat orang yang berbeda beda warna kulitnya. Tapi nggak berlaku buat dua anak hasil perkawinan ras campuran (asia & caucasia) di bawah ini. Si anak perempuan masih terbengong bengong takjub terkadang menangis kekejer melihat orang kulit hitam dan si anak laki laki selalu curi curi toel kulit dan rambut orang hitam, penasaran sepertinya.


Wednesday, April 23, 2008

tentang size

Suami saya orang kulit putih. Dan sayapun sering dapat pertanyaan-pertanyaan tidak penting dari teman teman sebangsa dan setanah air yang salah satunya seperti dibawah ini.

Entah hanya basa basi, iseng atau benar benar ingin tahu tapi yang pasti saya suka bingung mau jawab apa. Apalagi bila yang bertanya adalah seorang pria. Seperti yang terjadi pada hari itu, percakapan dengan seorang teman di salah satu tempat ngobrol maya :

+ : " Eh Dwi,.. suami loe bule khan ya. Bener nggak sih, orang bule itunya gede?"

- : " Wah,... gede apa nggak. Hmm.... gimana gue tau gede apa nggak? Pertama , gue nggak tau gede yang loe maksud itu se-gede apa. Kedua, gue belum pernah ngelihat kepunyaan dari ras ras lainnya secara langsung sebagai bahan perbandingan . Ketiga, suami gue seorang nggak bisa dijadiin standar ukuran dari seluruh ras orang kulit putih ", jawab saya sok serius mulai agak sebal

+ : " Oh..hehe.."

- : " Kenapa nanya nanya? Emang bener ya kepunyaan orang asia kecil -kecil. Sampe nggak pd gitu pake nanya ukuran orang bule. Punya loe sendiri gimana? Kecil pasti ya ..hohohohoho...hayo ngaku!!", ketik saya sambil mulai berpikiran iseng

+ : " Um... ...", mulai salah tingkah pastinya.

- : " ... ? "

+ : ------------------ nggak ada jawaban

- : " BUZZ !!! ", setelah 7 menit nggak dijawab

- : " Hey, hallo........!!! Yuhuuu.. gue pengen tau nih. Penasaran.....", 5 menit setelahnya

- : " BUZZ !!!", 2 menit kemudian plus "buzz!!!" lainnya yang tidak terhingga jumlahnya dari saya selama 5 menit berikutnya.

+ : ------------------ offline-----------


Dan sejak saat itu saya tidak pernah melihat si mas pemalu tersebut online lagi ......


ps: sekedar informasi buat yang suka iseng tanya tanya ukuran, produsen kondom Durex pernah bikin angket tentang size di India. Hasilnya ukuran itunya pria India lebih kecil. Produsen kondom tadi perlu mengurangi size kondom khusus untuk yang dipasarkan di India.


Wednesday, February 27, 2008

hanya 50 % ....

Bayi yang 100 % berdarah Indonesia, kebanyakan :
  • memakai kostum lengkap walaupun suhu di luar 34 derajat cel hihihi yang terdiri dari topi, sarung tangan, sarung kaki, pijama panjang plus di bedong ketika bayi
  • melakukan ritual potong rambut sampai licin aka gundul dan akikah-an bagi yang beragama Islam
  • selalu bersih dan wangi dengan baluran minyak telon, lotion, bedak, cologne dan hair lotion walaupun gundul..hehe
  • empat puluh hari pertama bahkan lebih tidak pernah keluar rumah kecuali untuk check up dokter
  • nenek / kakek/ tante/ bibi/ kakak nimbrung dalam proses kelahiran dan ikut serta mengurus si bayi atau paling tidak ikut menyumbang saran ( terkadang memaksakan kehendak, base on pengalaman mereka berpuluh puluh tahun silam hihihi ) bagaimana cara mengurus bayi yang benar
  • ayah si bayi jarang ikut turun tangan dalam mengurus bayi. Paling banter sesekali ikut menimang bayi... itupun saat si bayi dalam keadaan sudah bersih dan wangi
  • bayi perempuan telah mempunyai ear piercing sedini mungkin

Bayi yang 100% berdarah bule, kebanyakan :
  • bila tinggal di derah tropis hanya memakai body fit/celana monyet pendek tanpa topi dan sarung tangan, hanya kaos kaki sesekali
  • nggak ada ritual penggundulan rambut lagi pula kebanyakan bayi bule terlahir gundul :-P
  • hmmm..... tanpa bau sudah bagus lho! Biasanya mereka bau asem keringet bayi. Nggak jarang kuping si bayi terlihat sangat kotor... yellow-ish bahkan dark orange karena jarang dibersihkan ( berdasarkan pengamatan saya di baby playgroup jaman dulu Leonz dan saat ini dengan Leah )
  • seminggu pertama sudah ikut mum-nya belanja groceries
  • biasanya si bayi diurus bersama si ibu dan ayah-nya. sesekali nenek datang menjenguk dan ikut merawat bayi, tetapi tetap nggak mencampuri dan memaksakan kehendak tentang bagaimana mengurus bayi yang benar
  • si ayah lebih terlibat dalam mengurus bayi. Mereka ikut memandikan, mengganti nappy, dan bangun malam menyusui si bayi untuk formula baby
  • WHAT ?!! Are u crazy.....no ear piercing for a baby!!! It's against a human rights. Let her decide when she's ready.

And now... here comes Leonz & Leah "the bustards". 50% berdarah Indonesia dan 50% berdarah bule... maksut-nya :-P, kita terapkan :
  • berpakaian trendy ala orang dewasa tanpa sarung tangan dan topi. Ternyata senang ya mendadani bayi. Terutama bayi perempuan. Oh ya... suami saya geleng geleng kepala waktu saya bilang "Pity, the thong undies are not available yet for Leah's age ".
  • OH ..NO!!! jangan... kita nggak mau membuat bayi kita terlihat jelek. Tau sendiri khan bagaimana rasanya having a bad hair day ?!
  • seratus persen mengikuti cara Indonesiaah!!!! bahkan kami juga memakai produk Indonesia... hidup minyak rambut switzal dan minyak telon Ny. Meneer !!!
  • Leonz sudah ikut saya ke tukang jahit waktu dia baru berusia 2 minggu. Umur 3 minggu mulai join dengan baby playgroup. Dan Leah umur satu minggu sudah main ke taman belakang hotel, umur 2 minggu ke Siam Paragon dan umur 3 minggu naik skytrain dong... hehe
  • hanya saya, suami dan si bayi . NO relatives, please. Buat kami proses kelahiran dan paling nggak 1 minggu pertama adalah saat yang paling pribadi. Saat dimana kita belajar bounding each other sebagai anggota keluarga tanpa campur keluarga besar dan old fashion myths idea dari mama saya tersayang :-P.
  • saya beruntung punya Stefan, swami yang lebih keibuan daripada saya. Tanpa takut memandikan baby Leonz dan baby Leah lengkap dengan after bath massage-nya, tanpa risih mengganti pampers yang penuh dengan pee and poo, tanpa gengsi mau menggendong Leonz dan Leah diantara jam kerja kantor di hotel dan masih ber-jas dan dasi , slalu menyempatkan membaca dongeng sebelum tidur untuk Leonz, etc.. etc ( hey honey, thank you for being such a good daddy for our lil monters! Muuuachhhhh , on behalf of Leonz & Leah :-P )
  • yeah.. kenapa nggak?! kebanyakan kaum wanita ingin memakai anting, ya nggak sih.
Anyway, di bawah adalah foto bayi 50% bule dengan dua orang temannya yang 100% bule. Mereka meng-klaim groupnya sebagai "future charlie's angles" :-) .