Showing posts with label Bangkok. Show all posts
Showing posts with label Bangkok. Show all posts

Monday, November 17, 2008

basi basi

Saya paling senang meladeni pertanyaan basi basi yang nggak penting. Apalagi bila yang bersangkutan sang penanya tampak serius dan mulai mempercayai jawaban iseng saya. Entah karena wajah saya yang imut imut polos innocent tanpa dosa dan dapat dipercaya, atau si penanya adalah orang yang terlalu gampang percaya. Akibatnya sering terjadi tanya jawab lucu seperti di bawah ini.

Saya dan suami menghadiri function yang memang bukan acara keluarga. Anak anak kita tinggal di rumah tentu saja dengan nanny-nya.

+ : "Are you guys having a nanny to look after the kids tonight?", tanya bapak bule gendut dan keringetan sambil memegang gelas beer

- : "No, off course not. They want to go out too just like us. They said the are going to disco and have fun with friends. But we told them, to be back home before ten!", jawab saya tersenyum lembut tanpa dosa.

+ : "Ohhh.. really?! Wow.....", angguk-angguk kepala dengan muka bingung ...


Saya dan Leah datang ke suatu acara ibu-ibu fellows Indonesia di Bangkok. Karena jarang datang, maka nggak banyak ibu ibu yang saya kenal. Banyak pula pertanyaan-pertanyaan pembuka ala orang baru berkenalan dan biasanya ibu-ibu tersebut adalah subject yang gampang percaya dengan bualan jawaban jujur saya *harap-harap cemas semoga diantara mereka nggak ada yang baca blog ini, dan walaopun ada jangan marahhh ya. It's just for fun.... saya masih diundang khan sesekali?!*.

+ : "Ohh... baru ya di Bangkok. Nggak pernah dateng sih yaaaa. Aduhh, anaknya anteng banget ya. Diem gitu digendong di belakang. Nggak rewel. Gimana sih caranya?", tanya ibu berdada dan beranting gede sambil elus elus lengan sexy Leah.

- : "Udah lama kok, mbak. Setahun setengah..", jawab saya jujur. "oh... iya. Saya jarang dateng memang. Repot sih, punya anak kecil begini. Ini juga saya bela-bela-in. Makanya sebelum ke sini Leah saya kasih Valium dulu setengah dosis."

+ : "Oh.... bagus deh", sambil tetep elus elus Leah yang sudah mulai merasa sedikit terganggu. "Valium... susu gitu ya?", tanya lagi. Dan saya ketawa ngakak.


Terkadang niat mulia saya untuk melayani basi basi menuai sebal dari sang penanya. Seperti saat masih tinggal di Cina waktu itu. Saya dan Leonz yang sedang jalan jalan sore dan dipepet oleh ibu-ibu Cina gendut yang juga sedang jalan sore bersama anjing pudel-nya. Lucu deh, model rambut si ibu tersebut mirip dengan rambut anjing pudelnya.

+ : "***##$#$^+ : "***##$#$^$>>>....?", tanya tanya dengan bahasa Cina sambil melihat penasaran ke arah Leonz.
gt;>>....?", tanya tanya dengan bahasa Cina sambil melihat penasaran ke arah Leonz.

- : "Bu dong!", jawab saya yang artinya "nggak ngerti loe ngomong apa" berusaha sabar menghindari pepetan si Ibu yang makinan agresif

+ : "Ni de bobo?", si ibu berambut pudel kekeuh tanya sambil nunjuk Leonz

- : "Yes!", saya dorong stroller ke haluan kiri menghindari fans yang ngejar-ngejar minta tanda tangan tukang jagung.

+ : "Girl or boy?"

- : Saya melirik Leonz yang memakai celana panjang jeans, kemeja kotak kotak serta potongan rambut pria. "Boy!", jawab saya ..menghela napas panjang.

Sampai sepuluh menit berikutnya si Ibu pudel tetap keukeh jalan disamping kita. Saya juga ingin memulai basa basi dong.

- : "Ohhh cuteeee. How old ?" , tanya saya sambil menunjuk si pudel

+ : "1 year!", si ibu pudel terlihat sangat bangga. "shrooooooooouuu... cuiiiiih!" Si budel (ibu pudel) meludah. Mungkin saking bangganya

- : "Boy or girl ?", sumpah.. saya pengen tahu

+: "Girl", si budel tersenyum lebar

- : "Ni de bobo?", yang artinya "ini bayi kamu ?" tanya saya lagi sambil senyum... manis kembali menunjuk si pudel

+ : "##$$$$&&*******>>>>*&&^^^!!!", bahasa yang saya nggak ngerti sambil memutar haluan berhenti mengikuti kita.....

Friday, October 31, 2008

anak korban siksa

Seumur umur baru sekali ini saya merasa terhakimi. Mereka yang berpapasan tadi melihat saya dan Stefan sebagai orang tua yang kejam. Orang tua yang gemar menyakiti anak secara fisik. Pandangan yang bila diartikan seperti saya adalah ibu jahat di film "Ratapan anak Tiri".

Sejahat jahat-nya saya, saya nggak bakal menyiksa anak sendiri. Semarah marahnya saya, saya nggak akan menyayat anak sendiri (hohohoho... jadi ingat film wajib jaman orba, G 30 S/PKI) dan kemudian menjahitnya lagi dengan tusuk jelujur.

Memang, mereka terlalu cepat mengambil kesimpulan. Menghakimi hanya dari pandangan pertama tanpa mengenal siapa kami. Karena pada akhirnya, mereka semua tahu bahwa itu salah. Dan sadar.... malam ini malam Halloween!


Leah the gangsta's chick & Leonz the cool dude



Happy Halloween Everyone!!

Ps: modal lip liner dan pinsil eye liner untuk membuat luka jahitan di muka. Not bad, ey?

pps : baru tahu, ternyata setan Thai serem-serem lho. Mirip mirip kuntilanak, sendal bolong, serta penampakan penampakan di film film horror Indonesia.

Saturday, October 11, 2008

horoscope hari ini

Suami saya penggemar horoscope. Segala sesuatunya sering disangkut pautkan dengan ramalan bintang. Masalah keuangan, percintaan bahkan emosi suka ditilik lebih jauh lewat horoscope. Lucu deh, saking hobbinya maka di homepage google-nya penuh dengan link astrology gratisan.

Saya sendiri, antara percaya dan tidak percaya dengan ramalan bintang. Mosok iya sih, semua orang yang bertanggal lahir antara tanggal segini bulan ini sampai tanggal segini bulan mempunyai nasib dan pola kejadian yang sama. Apalagi ramalan bintang saya kebanyakan sering kali tidak menyenangkan. Makanya saya lebih suka membaca horoscope saya malam nya setelah hari yang diramalkan dilalui.

Dan daily horoscope saya hari ini, Pisces - Sabtu 11 Oct 2008 isinya...... :

The Moon in your sign allows you to wear your heart on your sleeve without appearing to be overly emotional. You don't need to say much; others just "sense" your inner feelings before you even open your mouth. And when you finally start to talk, your poetic speech can mesmerize everyone before they even know what hit them. Use your intuition wisely; don't squander your gift on meaningless chatter.


Kenyataan yang terjadi hari ini:

Saya sedang sakit. Menurut khun dokter di Bamrungrad, saya terkena upper respiratory infection (bahasa saya radang tenggorokan-ingusan-ditambah sedikit demam). Tadi pagi, di kamar mandi setelah batuk batuk sedikit, suami saya membawakan segelas teh panas. Kemudian kata pertama baby sitter -nya Leonz begitu melihat saya adalah , "Ma'am, are you sick?".....

Siang tadi saya mencoba potong rambut di salon baru. Khun stylist-nya (berambut gondrong acak acakan. Lebih mirip rocker daripada tukang salon) ternyata tidak bisa bahasa Inggris. Karena bingung menjelaskan dan nantinya malah nggak ngerti, akhirnya saya hanya bilang "volume!". Hasilnya... potongan rambut saya indah mengembang :-).

Seharian ini saya nggak perlu banyak ngomel ngomel ke anak anak. Suara saya habis. Cukup dengan ekspresi muka dan sorot mata penuh murka, anak-anak lumayan ngerti dan mengurungkan niat untuk melakukan hal hal yang nggak seharusnya serta melakukan hal hal yang sudah semestinya. Hanya dengan sekali suruh, Leonz tanpa banyak ba bi bu mau pakai sepatu sendiri. Dengan tiga kali "no" untuk Leah, walaupun sedikit melawan (baca: menggigit kaki saya) akhirnya berhenti menelfon operator (Leah sedang gemar main telfon rumah. Nomer favorit yang selalu dipencet adalah "0", operator hotel).

Ahhh... ternyata banyak benarnya *sambil lirik lirik swami yang lagi duduk di sofa nonton TV*. Sekali lagi saya ingin mencoba peruntungan berdasarkan horoscope hari ini *wink-wink*. Ganti baju dulu dengan celana pendek. Dan tanpa bicara saya akan duduk di sofa dan menjulurkan kaki pegal saya dipangkuannya. Mau minta pijet.....

Friday, September 12, 2008

kembali

Hai semua, saya kembali! Dua malam di Jakarta ternyata melelahkan. Baru terasa sekarang capeknya. Tapi, walau lelah saya senang. Senang ketemu orang tua, bisa sowan ke Eyang Putri saya sambil membawa hasil produksi terbaru joint venture kami (baca: Leah), berbelanja sedikit dan dibelanjakan banyak (*nggak-mau*rugi*dotkom* , makasih Ma!), serta puas puas makan makanan nggak sehat dan berkolestrol tinggi.

Ada senang ada sebal. Saya sebal melihat orang yang semakin nggak toleransi dan sopan santun, cuek tidak memberi bantuan saat saya yang sedang menggendong Leah, mengangkat koper sebesar gaban ke conveyer x-ray di airport Soekarno Hatta. Sebal melihat orang orang nggak ramah senyum. Sebal ketika harus membayar airport tax 200.000 untuk saya dan Leah, tapi terpaksa harus menahan napas dalam dalam dan pipis berdiri (iya, saya nggak mau duduk di kloset yang basah-bau-lumutan-warna coklat mungkin bekas puup yang tertinggal. Untuk yang berminat, bisa belajar disini tentang bagaimana caranya pipis berdiri). Gila, baru sadar ternyata toilet di airport kita busuk banget. Sempet bingung, ini toilet di internasional airport atau WC umum di pasar induk.

Untung saya bersama Leah. Melihat tingkahnya yang lucu dan sedikit memalukan (Leah sepertinya kangen banget dengan daddy-nya. Akibatnya dia selalu menggoda semua pria bule dengan kerlingan nakal, toel-an serta menghibur mereka dengan tarian perut cubby. Saya, cuman bisa mengurut dada sambil berulang ulang menjelaskan, "I am not her mommy. I am still single,.... she is my niece and she miss her daddy!") membuat saya sedikit melupakan segala kesebalan.

Begitu sampai di Bangkok, senang rasanya. Tidak perlu antri di bagian imigrasi dan dibantu tanpa diminta saat akan mengangkat koper dari conveyor belt. Ahhhh... home sweet home!!

Saturday, August 30, 2008

gaya ala penjual jamu

Seiring dengan pertambahan berat serta panjang badan Leah dan perkembangan mode ibu ibu muda trendih saat ini, saya memutuskan untuk ganti profesi.

Dari seorang pedagang asongan......,


........ menjadi mbak-mbak mbakul jamu!



Saya bukan penggemar stroller. Sejak tinggal di Bangkok dan menjadi "BTS lover", baby carrier dan baby sling adalah solusi terbaik. Merasakan baby Leah menempel di tubuh saya setiap kali berpergian membuat kami merasa lebih dekat satu sama lain, aman dan nyaman. Gerakan alami saat si ibu berjalan juga baik untuk berkembangan otot si bayi. Konon katanya, bisa memperkuat otot leher si bayi. Dan tetep terlihat trendiih tentu saja :-P.

Bicara tentang trendy, sling/gendongan bayi jaman skarang lucu lucu lho motifnya. Memang sih, kalau belum terbiasa agak ribet memakainya. Tapi dengan banyak berlatih di rumah dan bergabung dengan Bangkok Babywearing Club (ternyata menggendong bayi ada clubnya juga lho . Bahkan mereka secara berkala mengadakan Konferensi International khusus tentang menggendong bayi secara tradisional. Gaya ya...!) akhirnya sekarang saya mulai terbiasa dan percaya diri menggunakan Mei Tai sling untuk menggendong (jamu...) Leah.


Oh ya, kerjaan mbakul jamu ini terkadang digantikan oleh suami saya saat weekend. Dengan bakul yang berbeda tentunya. Selain merasa tidak macho dengan motif kembang, bakul jamu saya terlalu ribet dipakai katanya. Swami saya lebih memilih bakul yang lebih besar terbuat dari besi yang lebih berat tentunya, berwarna merah tanda berani sehingga memberi kesan si pembawa bakul adalah pria kuat dan macho yang pemberani...hohohohoho!!!


(dibaca dengan suara cempreng nan merdu serta logat Jawa yang kental :-P) Jammmuuuu... jammmuuuuu...!!!! Jamuuuuu nya Mas! Jamu sehat, jamu kunyit aseeemmm...




Wednesday, August 20, 2008

pengemis

Salah satu hal yang saya senangi dari Bangkok adalah bersih, nggak banyak pengemis, pengamen dan pedagang asongan. Walaupun ada beberapa, mereka sangat sopan dan tidak memaksa seperti di Indonesia. Mereka hanya duduk dan menunggu, nggak pakai ngeyel apalagi sampai membututi (pernah lho, mobil saya diludahi pengemis di lampu merah di Jakarta gara gara tidak memberi uang. haduh.. sakit hati rasanya).

Pernah hmmm sudah lama sih, tahun lalu. Untuk pertama kalinya saya melihat orang kulit putih mengemis di Bangkok, di depan Central Chitlom. Saya pikir albino, dari kejauhan. Ternyata beneran bule. Gila ya, para expat benar benar ingin menguasai ladang kerjaan orang lokal :-P. Dan sewaktu iseng saya ketemu ini untuk liputannya.

Baru baca di Bangkok Post hari ini kalau keberadaan pengemis akan lebih diatur. Nggak sembarangan orang bisa jadi pengemis. Mereka harus memenuhi persyaratan tertentu, baru kemudian mengajukan lamaran untuk menjadi pengemis dan mendapatkan ijin kerja. Keren ya, pakai working permit gitu.

Oh ya jadi inget lagi, sewaktu liburan di Bali kemarin kita sempet ketemu pengemis juga. Sempet ambil fotonya pula. Pola-nya sama seperti dimana mana, yaitu memakai anak kecil sebagai pembelas kasihan. Melas banget sih kelihatannya, soalnya si anak sampai makan pasir karena kelaparan. Lihat deh, fotonya :


"Mister...mister!!! Money...plese. Me and my mommy hungry.. no food last 4 days"

Monday, August 18, 2008

aroma bangsa-bangsa

Disclaimer : postingan di bawah ini tidak bermaksud menjelek jelekan suku dan ras tertentu tapi hanya sekedar sedikit membagi cerita tentang bau.

Walaupun pesek, hidung saya lumayan sensitif terhadap bau bau-an terutama yang dikeluarkan oleh tubuh. Bukan... bukan bicara tentang kentut. Bagi saya bau kentut adalah aroma yang universal, tanpa membedakan suku, ras dan agama pada umumnya bau-nya sama saja :-P. Namun ada be-bau-an khas lain yang dikeluarkan oleh tubuh, yang sering tanpa melihat saya tahu dari mana si pemilik bau berasal.

Bau Arab
Hmmm.. orang Arab yang saya endus di Bangkok (para tamu hotel, turis dan pasien di Bamrungrad) bau parfum. Benar lho, dari jauh sudah terbawa angin bau wangi parfum yang berlebihan. Dan tidak lama kemudian biasanya lewat rombongan Arab lengkap dengan abaya hitam hitam-nya.


Bau Bule

Waktu kecil dulu, saya sekolah di SD Khatolik. Salah satu Bruder-nya (let's say Bruder X), orang Londo (Belanda maksutnya :P) dan seminggu sekali mengajar suling dan biola. Bruder X yang memakai sepeda sebagai alat transportasi selalu berkeringat setiap kali mengajar. Saya sebagai murid yang baik dan selalu (terpaksa) duduk di barisan paling depan, terpaksa mencium aroma bau badan Bruder yang hmmm... sulit digambarkan tapi mungkin ini yang disebut bau bule. Campuran antara bau keringat, sedikit asam keju ditambah wine/alkohol basi. Kebayang nggak?

Selanjutnya, saya sering meng-endus bau yang sama setiap berada disekitar orang bule. Terutama para bule yang mungkin membawa kebiasaan jarang mandinya ke negara iklim tropis. Lucunya saya sama sekali nggak mengendus bau bule pada suami saya. Mungkin karena suami saya sering mandi atau mungkin hidung saya tertutup oleh cintaaaa... :-P

Bau Cina
Tadinya saya nggak pernah tahu bau Cina, sampai akhirnya kita tinggal di Cina. Orang Cina yang tinggal di mainland sana mempunyai dua macam bau. Pertama, bau aroma mulut yang bisa tercium dalam radius 3 meter saat bercakap cakap. Bau-nya merupakan gabungan dari bawang putih dan kol busuk yang berasal dari perut. Menjadi lebih parah lagi apabila malam sebelumnya mereka banyak minum alkohol. Duh, saya sempat bertanya tanya apa orang Cina nggak suka ciuman dengan pasangannya ck..ckck...

Oh ya, kedua bau yang berasal dari badan. Ini biasanya terjadi saat musim dingin. Saya mengerti, tidak semua orang mempunyai fasilitas air hangat dirumahnya. Sehingga mereka jarang mandi saat musim dingin. Hanya huaaa... baunya saya tidak tahan.

Untuk menghindari bau, sewaktu tinggal di Cina kita sangat anti naik taksi. Saya lebih memilih jalan kaki dalam hujan dan salju serta kedinginan daripada naik taksi bau.


Bau India
Katanya orang India bau kelek. Saya kurang percaya, sampai akhirnya kita pindah ke Bangkok. Di Bangkok banyak orang India, baik turist maupun para imigrannya. Dan memang, kebanyakan dari mereka bau kelek.

Efek dari makanan India yang kaya akan rempah rempah merupakan penyebab bau kelek. Hmmm.. kok bisa ya. Untung aja manusia keleknya cuman dua, coba kalau empat. Kebayang nggak gimana baunya? (garink.com)

Bytheway, walaupun nggak sering tapi saya suka makanan India. Untung di saya efeknya hanya perut kembung dan bau universal (baca: buang angin) sesudahnya, bukan bau kelek.


Bau Papua
Nah, bau yang satu ini benar benar nggak bisa digambarkan. Yang pasti bau-nya tajam menyengat bisa di-endus dari radius 10 meter bahkan lebih saat terbawa angin. Bau badan ini terutama dimiliki para penduduk asli-nya yang masih tertinggal di pedalaman. Saya nggak ngerti, ini berasal dari makanan yang mereka makan atau karena jarang mandi.

Sempat apes sewaktu saya tinggal di Timika, Papua. Iya, saya memang anti angkutan umum bau. Suatu saat saya kesiangan. Teman baik hati yang biasanya memberi saya tumpangan ke kantor sudah lebih dulu berangkat. Mau berjalan kaki, saya sudah sangat terlambat. Akhirnya saya menyetop angkot pertama yang lewat.

"Amann.....yay!!!", pikir saya sambil bernafas lega. Angkotnya kosong dan saya terbebas dari bebauan Papua yang akan membuat perut kosong saya mual.

Namun apes nggak dapat ditolak, di tikungan berikutnya angkot saya distop serombongan penduduk asli lengkap dengan anak anak-nya yang sedang ingusan :-( . Huaaaa!!!

***********************

Ternyata benar ya peribahasa yang kita pelajari jaman SD dulu "Lain padang lain belalang, lain bangsa lain pula bau-nya" :-P.

Oh ya, efek positif dari sering berada di sekitar sumber bau membuat saya menguasai tehnik menahan napas panjang dan bernapas (dalam lumpur) dengan mulut. Nggak mungkin khan saya menutup hidung terus terusan. Bisa tersinggung nanti si biang bau hehehehe.

Oh ya lagi, di bawah ini adalah gambar yang berhubungan dengan bau-bau-an yaitu aroma universal. Nggak jelas siapa si sumber penyebar aroma (yang jelas bukan si pemotret), tapi terlihat disini Leonz telah mendalami tehnik bernapas dengan mulut (perhatikan, mulut Leonz terbuka) sedangkan Leah masih memakai cara lama yang kurang sopan yaitu menutup hidung.



Ah ya, yang terakhir. Ada yang mau menambahkan be-bau-an yang lainnya, anyone? :-)

nongkrong strategis

Leonz mencari tempat nongkrong baru yang harus asik, yang harus memenuhi persyaratan antara lain : tidak terlalu jauh dari rumah, harga terjangkau untuk kantong "abg tanggung", dan yang terpenting asik buat melihat dan dilihat abg cantik (dan lelaki ganteng tentunya, agar mommy nggak bosen nemenin hohohohoho).

Maka dimulailah pencarian :

1. Starbuck Amarin Plaza
Ditemani seluruh keluarga. Tempatnya asik dengan sofa empuk, tapi sayang lokasinya terlalu jauh rumah, setopan ketiga setelah Phayathai BTS ditambah jalan sedikit.

Next....



2. Bakery Rumah Sendiri

Dibawah pengawasan para ibu dan bersama Leonz's best buddy, Luke the Duke ( mereka menamakan dirinya "the dude" and "the duke" ). Bakery rumah sendiri sudah jelas makanannya nyummy, lokasinya di pekarangan rumah sendiri sehingga tidak perlu keluar rumah. Tapi sayangnya: satu nggak ada abg cantik yang lalu lalang dan kedua... (ini gawatnya) semua staff di bakery rumah sendiri kenal dengan mommy dan daddy. Akibatnya nggak bisa melakukan tindakan yang memalukan (baca: lompat lompat sembarangan, lempar batu ke kolam, kejar kejaran naik turun tangga, semburan semburan pake sedotan, dan tingkah laku minus lainnya).

Mommy selalu bilang, "Mas Leonz,... please behave bla..bla..bla....!". Jadi lebih baik mencari tempat di luar rumah sendiri :-P.

Selanjutnya .....

3. P & F Coffee, dekat rumah sendiri


Masih ditemani the Duke. Lokasinya perfect. Hanya dua ratus langkah gede-gede (kalau saya nggak kelewatan menghitungnya :P) dari rumah sendiri, di pinggir jalan besar, dengan dua kursi empuk mungil di pojokan, dapat melihat (dan dilihat tentunya) dengan jalan ke jalan raya, dan banyak abg cantik lalu lalang. Pas banget, katanya Leonz lho. Walaupun nggak ada makanan kecil tapi minumannya nyummm.

Yesss... we found the place!

Sunday, July 27, 2008

immigrant gelap

Sudah pernah tersangkut masalah imigrasi? Saya baru mengalami dan sempat dibuat panik. Terjadi saat pulang liburan dari Bali kemarin, saat tiba di loket pemeriksaan imigrasi bandara Bangkok.

Pengalaman teman teman saya, anak mereka yang lahir di Thailand tidak membutuhkan visa tinggal di Thailand. Cukup memperlihatkan akte kelahiran setiap keluar masuk Thailand. Tapi mungkin dasar sedang dalam rangka hari apes, kenyataan yang saya alami beda.

+ : "Baby no visa. Baby only stay 1 month", kata bapak imigrasi sambil tersenyum manis.

- : "But our baby was born in Thailand. She doesn't need visa. This is her birth certifate", kata saya yakin. Sementara suami saya mulai pasang wajah kuatir.

+ : "Hmm.. let me see", terus senyum tapi muka nggak yakin. "Hmm.. I will asking supervisor", sambil mengutus koleganya pergi bersama paspor dan akte kelahiran Leah

saya dan suami menunggu dengan (terpaksa) sabar dan deg deg-an sementara Leah dan Leonz mulai melancarkan aksi demo sampai 10 menit berikutnya, ketika si kolega kembali.....

+ : "No, baby stay one month only!", jawab pak imigrasi dengan senyuman yang tambah lebar sambil dengan mantapnya memberi stempel di pasport Leah -- stay until 18th August!

- : "Are you sure? All my friends babies never have a problem entering and exit Thailand because they were born here ", saya mulai keukeuh surekeuh ala ibu ibu

+ : " Hummm I don't know. You go Immigration office at Sathorn and you can ask", masih dengan senyum lebar.

Duh, mau marah rasanya. Untung si bapak immigrasi cukup sabar dan obral senyum. Sekarang kita yang lumayan bingung. Tau sendiri negara asia yang hukum-nya agak agak kabur (nggak jelas). Kalau di negara sendiri masih gampanglah, secara saya mantan orang hukum(an) hohoho. Tinggal cari hukum tertulisnya dan taati. Lah disini, baca tulisannya aja susah nggak bisa gitu kok :-( .

Akhirnya saya dan suami mulai mengatur segala kemungkinan langkah selanjutnya :

Alternatif no.1 saya dan Leah pulang ke Jakarta, apply non immigrant visa dari Kedutaan Thailand di Jakarta. Tadinya saya suka ide ini bisa pulkam dan makan enak, tapi.. haduuh rasanya berat ninggalin mas mas berdua :-P. Lagipula jadwal syuting dan pemotretan saya penuh sampai tanggal 18 nanti hohohoho.....

Alternatif no.2 Leah pulang ke Jakarta sendirian (dengan pesawat tentunya, duduk sendiri dikalungi empeng dan name tag "Leah Willimann from Bangkok") dijemput Oma Opa di bandara dan apply non immigrant visa dari Kedutaan Thailand di Jakarta.

Kedua alternatif cukup ok, tapi secara ekonomis nggak ok. harga tiket Thai Airways naik hampir 70%. Kemudian terbersit kemungkinan selanjutnya yang secara nilai ekonomi lebih murah :

Alternatif no. 3 mengirim Leah sendirian (teteup dengan empeng dan name tag identitas diri di leher plus zippi cup in case kalau haus) bersama rombongan pencari visa instant ke Laos atau Cambodia dengan van atau truck bak terbuka (biar tambah murah) dan masuk lagi ke Thailand dengan visa tourist untuk satu bulan berikutnya.

Humm... alternatif no.3 mungkin lebih murah. Tapi nggak memecahkan masalah. Teteup nggak bisa tinggal lama. Setiap bulan harus keluar dari Thailand.

Akhirnya, dari browsing di internet (walaupun sebelumnya telah tanya sana sini, termasuk pada pihak yang berwenang dan kita nggak dapat jawaban yang pasti. Lucu deh... kok ada peraturan tanpa kepastian gini) kita baru tahu ternyata "anak berkewarganegaraan asing akan dikenakan denda overstay setelah mereka berumur 7 tahun". Artinya, Leah nggak bakal dikenakan denda walaupun dia overstay sampai 6 tahun ke depan.

Dari situ terpikir alternatif berikut ini :

no. 4 yaitu cuek bebek tinggal overstay di Thailand toh dia tidak akan dikenakan biaya overstay ini dan baru mengurus non immigrant visa saat ada waktu nanti. Efektif secara waktu dan ekonomi, tapi lumayan beresiko (takut Leah terjaring razia dan tiba tiba harus dideportasi...huaaaaa).

no. 5 yaitu penerapan dari alternatif no.4 didukung strategi baru yaitu penyamaran untuk menghindari razia (tuh khan, baru ingat. Saat melewati loket immigrasi bandara Thailand kita semua harus difoto). Jadi, saat bersama Leah setiap melihat petugas imigrasi saya akan mengadakan aksi tutup mulut agar tidak ketahuan bila saya adalah orang asing. Untuk sementara waktu nama Leah diganti menjadi Pui agar terdengar lebih Thai ... hehehe :-P, mengubah warna dan tatanan rambut Leah jadi hitam kriwil kriwil hair extention, kumis dan kacamata item.... perlu nggak?

Hmmm.. puup! Sampai sekarang sebenarnya kita masih bingung dan belum dapat jalan keluarnya. Ada yang pernah punya masalah sama di Thailand?! Sharing dong....




lastest up date :
- ada yang baru kasih masukan (masih kita cari kebenarannya :P) Leah nggak perlu keluar Thailand untuk apply non immigrant visa. "Yayy!!!" ... kalau memang bener lho dan "puup!!" kalo ternyata nggak bener.

- Le... ups maksud saya Pui baru berumur 9 bulan dan sudah bisa jalan, yayyy!!! Cukup suprise juga kita. Lucu deh, seperti boneka kecil di batterey-in... jalan mondar mandir keliling apartemen :-)


Wednesday, June 25, 2008

oleh oleh buat eyang

Kapan terakhir kali kamu berbicara dengan nenek tercinta? Karena kadang terpikir, suatu hari nanti saya pasti akan menjadi tua. Anak anak saya akan tinggal mandiri, membangun keluarga sendiri. Sedangkan saya dan suami akan hanya tinggal berdua. Iya, kalau kita berdua sama sama berumur panjang. Tahu sendiri, life expectation laki laki lebih singkat daripada perempuan. Hmmm... saya nggak mau nantinya end up terlupakan oleh anak cucu di hari tua nanti.

Karena itu walau jauh, saya masih terkadang teteleponan ( thanks to skype hehe ) sama eyang putri. Eyang saya, berumur 70 something tinggal sendirian di rumahnya. Eyang kakung saya sudah meninggal lebih dari 10 tahun yang lalu.

( khusus untuk percakapan suara dari eyang saya, dibaca dengan logat Jawa medok )

+ : "Hallo Eyang!! Apa khabar? Ini aku"

- : "Hallo? Sapa ya? Kok suaranya ndak jelas..."

+: "Ini Chiko (panggilan sayang untuk saya) , Eyang lagi apa?"

-: "Ey, Chiko! Bener tho Chiko? Atau Adek ya? Adek suka nyaru-nyaru jadi Chiko. Aku kok bingung...!"

Hehehe... adik saya yang bersuara hampir mirip saya di telepon memang suka iseng.

+: "Nggak... bener kok. ini aku. Dari Bangkok lho!! "

-: "Kamu apa khabar? Gimana Leah... makin gendut aja nggak. Aduh, itu anak badannya kok kayak oma oma gitu. Leonz apa khabar? Seneng di skolahnya?Stefan juga apa khabar? Sehat khan semua..."

dan bla..bla.. bla..... yang tidak terlalu menarik untuk saya tulis. Sampai pada bagian ini (senyum-dikulum.mode-on).

- : "Chik,.. mbok ya aku dioleh-olehi kalo kamu pulang ke Jakarta"

+ : "Pasti dong. Eyang mau apa dari Bangkok?"

- : "Gini lho.. aku denger koq katanya orang Thailand cuantik dan guanteng... ya "

+ : "Iya... Eyang tau aja. Tapi nggak semua kok. Yang biasa biasa aja juga banyak. Kenapa emangnya, Yang?"

- : "Mbok ya aku di oleh-olehi cowoq Thailand. Tapi cari yang masih guanteng dan masih muda. Kalo wis tua, ndak mau aku. Nanti baru sebentar dipiara keburu mati. Rugi aku ...."

Halahhh... eyang saya pengen piara brondong :-P. Ada ada aja. Sabar ya Yang, nanti aku cari pesenannya.

Thai's brondong, anyone? ;-)

Monday, June 16, 2008

jeritan hati wanita muda

Hi all, postingan di bawah saya ambil dari rubik sejenis "Oooh Mama Ooooh Papa" dari sebuah majalah wanita terkemuka yang tidak bisa saya sebutkan namanya (... untuk menghindari tuntutan dikemudian hari.... hohoho). Mudah mudahan dapat mengambil hikmah-nya dari cerita ini.

jeritan hati wanita muda

Pembaca yang budiman, sebut saja saya El-Ha. Usia saya masih sangat sangat muda. Saya tinggal bersama kedua orang tua serta kakak laki laki saya di suatu kota besar di asia tenggara.

Saya lahir di tengah tengah keluarga yang bahagia. Baik orang tua dan kakak saya sangat memanjakan saya. Hampir tidak pernah mereka membentak dan memarahi saya, kecuali saat saya melakukan hal-hal tidak mereka suka seperti menarik kabel komputer, menggigit hak sepatu ibu saya, atau menyembur nyembur saat makan.

Pada dasarnya hidup saya bahagia, sampai suatu hari saat saya mulai keluar rumah. Pelecehan dan bentuk perbuatan lain yang tidak menyenangkan dari orang lain baik yang berupa kata kata maupun tindakan mulai saya terima.

Ibu selalu menggendong saya di depan. Menyenangkan tadinya, bisa melihat lihat banyak pemandangan sambil tersenyum menjual pesona pada banyak orang. Saya hanya mencoba untuk menjadi wanita yang ramah dan murah senyum, seperti adat istiadat di kota tempat saya tinggal saat ini.

Entah karena saya banyak tersenyum atau mungkin saya terlalu ramah dengan melambaikan tangan pada semua orang saya jumpai, perlakuan balasan yang saya terima sering tidak menyenangkan. Sering mereka datang, tanpa basa basi menjawil kaki dan tangan saya yang sexy, bahkan nggak jarang tiba tiba mereka langsung membelai pipi halus saya.

Hiihhhhh... saya bergidik. Bulu kuduk saya merinding. Mereka adalah orang yang tidak saya kenal. Saya tidak tahu, apa yang mereka lalukan sebelumnya dengan tangan tangan tersebut. Mungkin saja mereka baru dari toilet tanpa mencuci tangan, mungkin juga mereka membersihkan hidung dan kuping, atau bahkan mungkin mereka baru menggunakan tangannya untuk mencongkel makanan yang tersangkut di gigi-nya.

Dalam bentuk perkataan, ada saja kata kata yang dilontarkan yang jelas jelas menganggu saya sebagai seorang wanita. Coba, mana ada wanita yang mau dibilang ,"aduh,.. gendutnya!" dan kemudia dikuti oleh "beratnya berapa ya?". Atau "liat deh,... lucu perutnya kemana mana!" . Saya tahu, saya mungkin sedikit overweight, tapi bukan berarti perlu digembar gemborkan. Lagipula sebenarnya saya tidak terlalu gendut gendut amat kok,... pantat saya mungkin terlihat agak besar. Tapi itu karena diapers yang tebal setelah 10 jam lupa diganti oleh Ibu lho ( MTP aka manipulasi tebal pantat. Saat kuliah dulu, teman teman Ibu saya sering memakai bra dengan lapisan busa tebal aka MBT aka mapulasi besar toket. Kalau MTB... tau nggak? Manipulasi tinggi badan,.. yaitu pakai sepatu hak tinggi. sorry... oot deh jadinya )

Para pembaca, jadi bottom line dari curahan isi hati saya adalah :
  1. Tolong jangan toel toel saya. Saya tahu, saya memang sexy dan suka joged "toel-toel ahh.." nya tante Itjhe Trisnawati, tapi bukan berarti saya suka di toel toel.
  2. Setiap kali saya tersenyum dan melambai, bukan berarti saya mengundang untuk di toel. Haduhh.... saya nggak enak kalau dikira mengumbar nafsu me-noel, nanti saya bisa dicekal tidak diterima pulang ke Indonesia tercinta.
  3. Please, jangan mengomentari saya dengan hal hal yang sudah jelas dan nggak penting. Seperti tidak ada bahan pembicaraan saja. Contohnya: "ey.. gigi-nya ada dua 2", sambil berusaha mencubit hidung saya,.. arghhhhhh!!
  4. Pertanyataan tentang apa jenis kelamin saya masih bisa dimaklumi. Walaupun saya memakai anting dan blouse kembang kembang, banyak orang masih belum jelas. Mungkin karena kita tinggal di negara yang bila orang memakai anting, baju wanita lengkap dengan make up-nya, bahkan berdada adalah belum tentu berjenis kelamin wanita hehe.
  5. Satu lagi ... saat saya tertidur di gendongan depan Ibu saya tidak perlu di teriaki "woii.. she's sleeping!!". Itu mengganggu. Pertama, saya jadi terbangun. Kedua, ibu saya juga tahu bila saya tertidur.
Demikian para pembaca yang budiman, jeritan hati saya. Jeritan yang melebihi suara jeritan Ibu saya tadi pagi saat menangkap basah saya yag mencoba mencongkel colokan kabel komputer dengan jari jari kreatif saya.

Mudah mudahan para pembaca dapat mengambil hikmah-nya.

El-Ha, di bkk.

ps : saya bingung, penyanyi "toel..toel.. ah... sukanya toel-toel..ah" adalah tante Itjhe Trisnawati atau neneng Fetti Vera, ya? tolong dong.. masukannya.

up date, terakhir :
setelah negosiasi yang cukup alot dengat El-Ha, akhirnya beliau mau membuka jati diri dengan menampilkan foto diri serta usia yang sebenarnya. Foto tersebut diambil dalam mobil , perjalanan pulang ke rumah.


El-Ha , 7 bulan - 3 minggu

Tuesday, March 4, 2008

bau rupa - rupa dan passport hijau

Hari ini saya ke KBRI berjalan kaki. Sambil menggendong Leah di kantong kangguru. Dari rumah, asli saya masih wangi. Di jalan banyak kendaraan berlalu lalang. Bau asap mobil menempel di rambut saya.

Saya berjalan melewati tukang jagung, bau jagung pun menempel di badan - lewat di depan tukang gorengan, bau gorengan ikut menempel - melewati pedagang sosis bakar, bau sosis bakar ikut menempel - melewati kuil kecil di pojok toko, bau asap dupa menempel di baju saya - lewat di depan tukang buah, tapi bau-nya nggak ikut nempel :P - Leah spitting, dan baunya menempel di baju saya.

Passport hijau Leonz sudah jadi. Lega rasanya anak anak sudah mendapatkan passport RI. Kalau dipikir pikir gaya juga, masih kecil tapi punya dua passport .... hijau dan merah. Dan hmmm.... kita akan butuh dompet passport yang lebih besar setiap kali travell ke Indonesia.



Selesai urusan passport saya mampir ke kantin. Nyumm.. nyum.. makan siang dengan menu rumahan masakan Indonesia. Ternyata di manapun kita berada pasti balik lagi cari masakan Indonesia :P. Oh iya, di kantin saya ketemuan dengan ibu ini. yang ternyata tinggal nggak jauh dari hotel saya.

Pulangnya saya berjalan kaki lagi. Melewati para tukang dagang makanan. Kali tidak peduli lagi dengan bau yang rupa rupa :-).









Monday, February 25, 2008

cerita tuk-tuk

Walau hampir setahun tinggal di Bangkok tapi saya belum pernah merasakan naik tuk-tuk, sejenis bajaj kalau di Indonesia tapi dalam bentuk lebih terbuka. Karena penasaran hari Sabtu kemarin pulang dari threesome dating ( baca: jalan jalan bertiga ) dengan Stefan dan Leonz maka dengan alasan ' it's for Leonz' saya keukeuh untuk mencoba naik tuk-tuk pulang ke rumah.

Lumayan lama menunggu, akhirnya kita dapat satu tuk-tuk kosong. Pak supir yang bertatto menggangguk angguk setuju dengan harga yang kita tawarkan. Huuppp... naik tuk-tuk istimewa pak supir bertatto duduk di muka..... ( dibaca dengan irama "naik delman istimewa kududuk di muka .. hahaha garingk! ).

Tukk kutuukkkk kutukkk kutukk kutukkkkkkkk tukkkkk tukkkkkk........ suara mesin tuk-tuk berbunyi.

Leonz tampak sangat gembira dan melompat lompat kegirangan dalam tuk-tuk. Stefan terseyum bahagia melihat Leonz, iya.. kita orang tua pasti senang melihat anaknya bahagia. Sedangkan saya tersenyum sendiri." Hurayyy, akhirnya saya merasakan naik tuk-tuk!", sorak senang sesaat dalam hati, tapi kemudian.......

Dua menit pertama berlalu, tuk-tuk kami berhenti di lampu merah pertama
Leonz : mulai duduk anteng karena kepanasan
Stefan : " uhg,... it's hot! Can u imagine without aircon di Bangkok?!"
Saya : "yeah.. it's really hot!! musti mandi nih begitu nyampe rumah".

Lima menit berikutnya, tukk kutuukkkk kutukkk kutukk kutukkkkkkkk full speed dan cietttttttttttttt... tuk-tuk dengan sukses-nya berhenti tepat 5 centimeter dari volvo tua di depan
Leonz : tambah anteng entah karena kepanasan atau deg-deg-an
Saya : " hmmmm.... kok ngebut gini ya honey? safe nggak sih pake tuk-tuk?"
Stefan: " why? It's no accident, anyway. It's happen often during the night when the driver were half drunk already".

Lima menit berikutnya di terjebak sedikit macet di lampu merah ke tiga, si tuk tuk mulai menjalankan aksi zig zag ala angkot di Bandung. Sorong ke kiri..... ciettttttttt rem ngedadak, coba lagi dari kanan.. ciettttttttt ngerem lagi
Leonz : tampak sedikit grogi pegangan erat mommy daddy-nya
Stefan : " we do not have to use tuk-tuk every weekend honey.. right?!"
Saya : skj (senam jantung dan ketakutan ) serta babaca-an.

Empat menit kemudian setelah dengan percaya diri-nya tuk-tuk menyalip dan tiga kali ngepot di depan bus gede serta menyebrangi rel kereta api dengan kecepatan tinggi... akhirnya kita sampai di hotel... hhhhhmmm.... semuanya lega!
Leonz : nggak jelas ekspresi-nya tapi pipi-nya merah kepanasan
Stefan : "Kapunkap...!" ke bapak supir pembalap yang bertatto
Saya : bayar tuk tuk dengan uang recehan pecahan terkecil, bilang terima kasih... dan berjanji dalam hati nggak akan naik tuk-tuk lagi kalau tidak terpaksa.