Saturday, September 5, 2009

tinggal di seputaran kandang ayam

Saya tertawa geli membaca status seorang teman di salah satu situs pertemanan. Isinya kurang lebih begini ;
ada yang tau nggak di mana bisa ngedapetin license for killing "ayam"?
Tadinya saya nggak ngerti "ayam" yang dimaksud teman saya adalah ayam dalam arti sesungguhnya atau ayam dalam arti penjaja seks komersial. Untuk membunuh ayam dalam arti sebenernya nggak mesti pake ijin segala khan ya. Kecuali ayam milik tetangga, tentunya.

Saya jadi "ngeh" sambil ketawa guling guling setelah baca komentar di bawahnya, yang semuanya dari kaum perempuan. Isinya, tentu saja mendukung pembasmian para "ayam". Hanya cara menyampaikannya yang lucu. Berapi api, penuh esmosi.

Solidaritas perempuan yang mungkin pernah terluka karena "ayam" atau yang merasa nggak nyaman dan terancam akan ke-eksis-an "ayam". Ditambah para komentator tersebut mungkin sedang mengalami PMS. Membuat saya serasa membaca selebaran dari organisasi tertentu yang menghimbau massa-nya membakar tempat tempat yang dianggap maksiat.

Bukan berarti saya nggak simpati dengan teman saya dan para komentatornya. Saya ngerti banget yang mereka rasakan.

Persis yang saya rasa 2,5 tahun lalu saat akan pindah ke sini.

Siapa yang nggak kenal Bangkok. Kota yang terkenal dengan kehidupan malam dan wisata seks-nya. Ditambah cerita kiri kanan, banyak para ekspat yang pernikahannya "mbubar" di sini. Cerita klise, si suami tergoda ayam.

Para wanita dan "setengah" wanitanya cantik cantik, gemulai dan berbadan langsing. Saat itu saya sedang hamil, ukuran badan sebesar kulkas 4 pintu. Kebayang nggak gimana sensitif dan merasa terancamnya saya. Tiap ada perempuan (atau setengah perempuan Thailand ("ayam" atau bukan "ayam") yang senyum dan ngelirik swami, rasanya pengen dilempar pake tas isi batu bata.

Ahh.... perempuan bersuami mana yang nggak deg-deg-an tinggal diseputaran kandang "ayam".

Tapi kemudian kenyataannya nggak seperti yang saya bayangkan. Suami saya nggak pernah keluar malem tanpa saya. Kita tinggal di gedung yang sama dengan tempat kerjanya. Sarapan bareng, makan siang bareng, makan malem bareng. Rasa aman saya mulai muncul.

Saat saya hamil besar, saya sering diberi tempat duduk di bts/sky train oleh mbak-mbak pekerja seks. Beberapa kali dibantu mereka menaruh belanjaan dari trolley ke meja kasir, tanpa saya minta. Mungkin mereka kasian, perut saya terlalu besar untuk membungkuk. Walaupun berpakaian tidak sopan dan berdandan menor, tapi tingkah laku mereka terhadap saya -si ibu hamil gendut- persis seperti yang diajarkan di pelajaran PMP dulu, waktu SD.

Sampai suatu malam, saat saya dan suami kencan di sekitar daerah hiburan malam. Dari jendela restaurant terlihat beberapa mbak mbak pekerja seks merubungi khun kaki lima penjual baju anak anak.

Lalu saya berpikir. Mereka nggak muda lagi. Mereka mungkin seperti saya, seorang ibu. Bedanya, mereka nggak seberuntung saya. Yang dibekali pendidikan oleh orang tua, yang diberi akal waras untuk nggak melakukan hal hal yang nggak baik.

Mereka hanya bekerja, mencari makan. Mungkin uangnya di kirim ke kampung untuk hidup anak-anaknya dan keluarganya atau mungkin dipakai bersenang senang sendiri. Mungkin mencoba peruntungan untuk mendapat jodoh, penghidupan yang lebih baik. Entahlah, itu urusan mereka. Mereka juga manusia seperti kita, punya mimpi yang ingin diwujudkan.

Kemudian saya memandang suami saya. Dia asik bercerita sambil memanggang tangan saya. Kembali saya merasa beruntung. Saya cinta dia. Dia bahagia bersama saya. Sepanjang kita berdua bahagia satu sama lain, kita nggak akan mencari yang "aneh-aneh" di luar sana.

Tiba tiba saya merasa bodoh karena membenci mereka. Saya nggak kenal mereka. Mereka nggak mengganggu kehidupan saya. Bukan berarti saya setuju dengan mata pencaharian mereka. Anggap saja mereka penyedia jasa service buat para pria yang "kebelet". Hitung hitung menurunkan angka perkosaan.

Maka inilah saya. Hidup penuh toleransi di seputaran kandang ayam.

ps: ada yang tau nggak, kenapa ayam disama sama-in dengan penjaja seks? Seorang teman saya tanya... dan saya juga nggak tau kenapa. :P

Saturday, April 11, 2009

kembali bercerita

Saya kembali.

Bercerita lagi tentang ini itu setelah lama menghilang. Entah kenapa beberapa minggu terakhir rasanya malas untuk mulai menulis. Selain karena sibuk tentunya. Punya dua anak yang battery nya nggak pernah kosong , suami ganteng dan sexy serta kembali melukis membuat energy saya habis... bis. Tidak sempat lagi menulis. Ah ya, tentu saja ditambah candu facebook yang meracuni hidup saya :P.

Berikut ini adalah beberapa hal nggak penting yang terjadi selama saya vacum bercerita;

Pertama, Leonz Leah tambah besar. Lebih ber-interaksi satu sama lain. Mereka mulai sadar sebagai kakak adik nggak afdol rasanya kalau nggak berantem. Permainan yang sedang jadi "hips" saat ini adalah "smack down" diiringi aksi senggol dan cubit sana sini. Setiap babak diselingi teriakan "mammmaa!", "daddyyy!", "yaya!", "no Eonzzz!" serta tentu saja tangisan bombay Leah. Di akhir permainan, kedua pihak saling peluk cium dan bermaaf-maafan.

Kedua, saya kira saya menopouse dini. Menunggu nunggu period yang nggak kunjung datang sejak hamil Leah. Selain merasakan "hot flush" belakangan saya lebih sensitif. Sempat menyumpah dan berharap suatu saat nanti yang bersangkutan ada di posisi saya sebal terhadap seorang teman. Atas komentarnya di situs "muka buku" saya. Dia bilang, anggap saja joke tentang autism seperti joke joke ringan lainnya sebab orang yang berjiwa besar adalah orang yang bisa menertawakan kekurangan dirinya sendiri.

Mungkin bapak itu benar. Tapi saya tidak cukup kuat untuk berjiwa besar dalam hal ini. Untuk bisa menertawakan diri sendiri saat menghadapi anak yang saya cinta tidak berkembang seperti anak anak lainnya. Saat harus menenangkan anak saya saat tantrum-nya datang. Saat anak saya menangis dan berteriak histeris tanpa sebab. Saat berusaha membuat anak saya mau menatap mata saya. Saat terus berusaha, menunggu dan masih menunggu suatu hari nanti anak saya berbicara.

Ketiga, ternyata saya salah tentang menopause. Setelah dua puluh enam bulan merasa innocent seperti anak yang belum akil balig tidak mengalami period, akhirnya empat hari lalu muncul juga. Pas sehari sebelum kita berangkat ke pantai ( thanks to tampoon, saya tetap bisa berbikini di masa period :P ).

Saya masih tetap menyusui. Karena itu menstruasi saya tertunda. Hot flush yang sempat saya rasakan belakangan ternyata dirasakan juga oleh seluruh penduduk Thailand. Suhu udara bulan Maret dan puncaknya April memang panas. Dan rasa sensitif saya tentang komentar teman tadi adalah wajar, sebagai ibu dari anak penyandang autism.

Keempat, saat menulis posting ini suami ganteng saya sedang nonton TV dengan resahnya. Resah karena ingin memakai komputer juga. Chanel TV mulai berganti ganti dalam jeda yang sangat singkat. Dari CNN pindah ke E Channel, lompat ke CCTV 9 kemudian DW-TV. Belakangan merambah ke channel dalam bahasa bahasa yang dia sendiri nggak ngerti. Ini pertanda saya udahan nge-blog dulu. Waktu saya di depan kompuer sudah habis untuk malam ini.

Ahh ya... yang terakhir, happy easter dan happy songkran bagi yang merayakan!!!

Wednesday, March 4, 2009

bahagia

Terkadang saya heran. Melihat teman yang (sepertinya) sempurna. Fisik dan harta. Keluarga dan orang orang yang mencintainya. Namun tidak bahagia.

Mungkin ada benarnya.

Bahwa kebahagiaan adalah di dalam diri sendiri. Kita harus menciptakan kebahagiaan sendiri. Berbagai benda yang kita miliki, orang-orang di sekitar kita tidak dapat memberikan kebahagiaan. Karena di luar diri kita, hidup selalu berubah. Dan itu salah satu alasan untuk tidak menanam kebahagian di luar sana.

Ahh.. nggak gampang memang. Saya sendiri tetap berusaha menciptakan kebahagiaan dari dalam. Walau sebagian besar fungsi otak saya, sadar dan di bawah alam nggak sadar selalu memikirkan anak special need saya.

Tapi mungkin ada benarnya. Karena disaat saya bahagia, segalanya terasa lebih mudah.

Iya,... saya sedang bahagia dan sok bijak malam ini ;-)! Setelah bersyukur karena merasa lebih beruntung dari yang lainnya.

Monday, January 5, 2009

cappuccino dengan extra susu

Waktu kecil, kulit saya hitam. Sempat sekolah di SD yang sembilan puluh sembilan persen muridnya adalah warga keturunan yang pasti berkulit terang. Jadilah saya murid tergelap di kelas. Bahkan sering dipanggil "hitam", dalam bahasa ibu mereka tentunya.

Beranjak remaja, kulit saya tetap gelap. Kadang iri melihat para teman wanita yang berkulit putih bersih banyak dipuja teman pria. Dan berhayal bagaimana rasanya memiliki wajah cantik -kulit putih idaman para pria.

Memang dasar berkulit gelap, saat dewasa warna kulit saya tidak berubah. Definisi wanita cantik menurut kebanyakan pria asia adalah putih, langsing dan berambut panjang. Nggak heran jarang sekali saya punya pacar.

Tapi Tuhan itu adil. Setiap orang diciptakan berpasang pasangan. Walaupun berbeda warna kulit. Maka saya, si kulit "cappuccino" bersuamikan dia, si kulit "putih susu".

Ternyata kulit "cappuccino" yang biasa biasa saja bagi bangsa asia adalah cantik bagi bangsa kulit "putih susu". Demikian juga sebaliknya.

Jadi terpikir anak anak saya. Warna kulit mereka adalah "cappuccino dengan extra susu". Mudah mudahan mereka nggak merasakan apa yang dulu saya rasakan dan memang warna kulit tidaklah terlalu penting.

Saturday, November 29, 2008

jadi istri bule

Mau tahu apa yang saya pikir tentang para wanita yang menjadi istri bule sebelum jatuh cinta dan menikah dengan suami saya? Iya,.... betul!! Saya sempat berpikiran sempit tentang mereka.

Dan ternyata saya salah.

Waktu dan pengalaman membuat saya lebih dewasa (sok-bijak mode on :-P). Setelah enam setengah tahun menikah dan berkembang biak membelah diri menghasilkan Leonz Leah beranak pinak dengan mas bule, berpindah pindah tempat tinggal dan bertemu dengan bertemu dengan sesama wanita Indonesia yang menikah dengan pria berbeda planet bangsa, merubah pandangan saya.

Tidak semua wanita yang menjadi istri bule adalah perempuan nakal sebelumnya. Tidak semua yang menjadi istri bule, tidak berpendidikan. Tidak semua istri bule menikah hanya atas dasar ekonomi. Dan tidak semua wanita yang menikah dengan bule, secara fisik memiliki kulit gelap dan berwajah eksotik (walaupun saya salah satunya) hehe...

Mereka (termasuk saya tentunya) hanya wanita biasa yang berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Yang mungkin karena takdir jatuh cinta dan berjodoh dengan pria berbeda bangsa dan budaya.

Tentu saja banyak hal menarik dari hidup kami. Ingin tahu? Saya akan mengarang berdasarkan pengalamanbercerita lebih banyak lagi di sini !

Monday, November 17, 2008

basi basi

Saya paling senang meladeni pertanyaan basi basi yang nggak penting. Apalagi bila yang bersangkutan sang penanya tampak serius dan mulai mempercayai jawaban iseng saya. Entah karena wajah saya yang imut imut polos innocent tanpa dosa dan dapat dipercaya, atau si penanya adalah orang yang terlalu gampang percaya. Akibatnya sering terjadi tanya jawab lucu seperti di bawah ini.

Saya dan suami menghadiri function yang memang bukan acara keluarga. Anak anak kita tinggal di rumah tentu saja dengan nanny-nya.

+ : "Are you guys having a nanny to look after the kids tonight?", tanya bapak bule gendut dan keringetan sambil memegang gelas beer

- : "No, off course not. They want to go out too just like us. They said the are going to disco and have fun with friends. But we told them, to be back home before ten!", jawab saya tersenyum lembut tanpa dosa.

+ : "Ohhh.. really?! Wow.....", angguk-angguk kepala dengan muka bingung ...


Saya dan Leah datang ke suatu acara ibu-ibu fellows Indonesia di Bangkok. Karena jarang datang, maka nggak banyak ibu ibu yang saya kenal. Banyak pula pertanyaan-pertanyaan pembuka ala orang baru berkenalan dan biasanya ibu-ibu tersebut adalah subject yang gampang percaya dengan bualan jawaban jujur saya *harap-harap cemas semoga diantara mereka nggak ada yang baca blog ini, dan walaopun ada jangan marahhh ya. It's just for fun.... saya masih diundang khan sesekali?!*.

+ : "Ohh... baru ya di Bangkok. Nggak pernah dateng sih yaaaa. Aduhh, anaknya anteng banget ya. Diem gitu digendong di belakang. Nggak rewel. Gimana sih caranya?", tanya ibu berdada dan beranting gede sambil elus elus lengan sexy Leah.

- : "Udah lama kok, mbak. Setahun setengah..", jawab saya jujur. "oh... iya. Saya jarang dateng memang. Repot sih, punya anak kecil begini. Ini juga saya bela-bela-in. Makanya sebelum ke sini Leah saya kasih Valium dulu setengah dosis."

+ : "Oh.... bagus deh", sambil tetep elus elus Leah yang sudah mulai merasa sedikit terganggu. "Valium... susu gitu ya?", tanya lagi. Dan saya ketawa ngakak.


Terkadang niat mulia saya untuk melayani basi basi menuai sebal dari sang penanya. Seperti saat masih tinggal di Cina waktu itu. Saya dan Leonz yang sedang jalan jalan sore dan dipepet oleh ibu-ibu Cina gendut yang juga sedang jalan sore bersama anjing pudel-nya. Lucu deh, model rambut si ibu tersebut mirip dengan rambut anjing pudelnya.

+ : "***##$#$^+ : "***##$#$^$>>>....?", tanya tanya dengan bahasa Cina sambil melihat penasaran ke arah Leonz.
gt;>>....?", tanya tanya dengan bahasa Cina sambil melihat penasaran ke arah Leonz.

- : "Bu dong!", jawab saya yang artinya "nggak ngerti loe ngomong apa" berusaha sabar menghindari pepetan si Ibu yang makinan agresif

+ : "Ni de bobo?", si ibu berambut pudel kekeuh tanya sambil nunjuk Leonz

- : "Yes!", saya dorong stroller ke haluan kiri menghindari fans yang ngejar-ngejar minta tanda tangan tukang jagung.

+ : "Girl or boy?"

- : Saya melirik Leonz yang memakai celana panjang jeans, kemeja kotak kotak serta potongan rambut pria. "Boy!", jawab saya ..menghela napas panjang.

Sampai sepuluh menit berikutnya si Ibu pudel tetap keukeh jalan disamping kita. Saya juga ingin memulai basa basi dong.

- : "Ohhh cuteeee. How old ?" , tanya saya sambil menunjuk si pudel

+ : "1 year!", si ibu pudel terlihat sangat bangga. "shrooooooooouuu... cuiiiiih!" Si budel (ibu pudel) meludah. Mungkin saking bangganya

- : "Boy or girl ?", sumpah.. saya pengen tahu

+: "Girl", si budel tersenyum lebar

- : "Ni de bobo?", yang artinya "ini bayi kamu ?" tanya saya lagi sambil senyum... manis kembali menunjuk si pudel

+ : "##$$$$&&*******>>>>*&&^^^!!!", bahasa yang saya nggak ngerti sambil memutar haluan berhenti mengikuti kita.....

Friday, November 14, 2008

lady sexy poxie-alot

Kenalkan, nama baru saya paling tidak untuk beberapa hari ke depan. Panggil saya Lady Sexy Poxie-alot. Dengan sebelas sexy poxs imut imut di wajah dan satu lumayan besar, tepat di eyelid tempat bulu mata tumbuh ( arrghhhhh! ), serta puluhan lainnya dengan ukuran yang berbeda tersebar di badan.

Iya, saya sedang dengan sukses-nya terkena cacar air. Untuk yang pertama kalinya seumur hidup saya. Penyakit ini lumayan menyebalkan. Pertama, rasanya sangat sangat mengganggu. Demam, gatal gatal dan tidak enak dipandang. Kedua, chicken pox adalah penyakit menular, maka jangan harap ada teman yang mau datang menjenguk. Mendapat simpati melalui telefon atau e-mail sudah bagus.

Saya nggak ngerti dari mana datangnya virus cacar air yang imut imut menggemaskan ini. Yang pasti saat masih sekolah dulu setiap ada teman yang terkena acar air, saya selalu kuat nggak ikut tertular. Sempat yakin kalau saya telah diimunisasi campak. Tapi setelah tanya ke mama tercintahh, teryata beliau sendiri nggak yakin apa iya saya telah diimunisasi.

Anyway, Lady Sexy Poxie-alot (saya, maksutnya. sang duta cacar aer) adalah orang yang selalu berpikiran positif . Selalu ada sisi positif dari terkena cacar air. Yang pasti saya belajar untuk sabar dalam segala hal. Sabar ketika swami saya, Sir Stefan Ganteng-alot bilang, "heheheh... my wife get chicken pox, a childhood illness....", sambil tertawa terkekeh kekeh. Sabar saat para teman-teman fellows Indonesian memberi support melalui telfon dengan nada simpati berbahagia diiringi tawa menggelegar.

Sir Leonzter Jump-alot dan Lady Leah Talk-alot juga banyak menguji kesabaran saya. Leonz seringkali kabur saat saya berusaha memeluk dan kemudian dari kejauhan mencuri curi pandang mengamati wajah saya, penasaran. Leah lebih perhatian. Selalu ingin berada di dekat saya dan saat saya lengah selalu berusaha menoel bentol cacar.

Mengingat umur saya yang hampir dua puluh satu tahun sudah bukan ABG lagi, maka saya super duper sabar menahan diri untuk tidak menggaruk bentol bentol sexy disekujur tubuh ini. Berusaha mencari kesibukan lainnya sehingga lupa akan rasa gatal yang merongrong kalbu.

Entah karena obat anti-viral yang lumayan ampuh atau berkat daya tahan tubuh saya yang kuat atau memang begini prosesnya, sekarang yang juga hari ke-4 sejak bentol sexy pertama muncul saya merasa lebih baik. Para sexy poxie baru berhenti muncul, sexy poxie lama tetap eksis dengan bentuk yang lebih kering kali ini. Mudah mudahan minggu depan saya bisa kembali normal seperti sedia kala dan berganti nama ke nama asli saya, Lady Dwi Sexy-alot .......

Friday, October 31, 2008

anak korban siksa

Seumur umur baru sekali ini saya merasa terhakimi. Mereka yang berpapasan tadi melihat saya dan Stefan sebagai orang tua yang kejam. Orang tua yang gemar menyakiti anak secara fisik. Pandangan yang bila diartikan seperti saya adalah ibu jahat di film "Ratapan anak Tiri".

Sejahat jahat-nya saya, saya nggak bakal menyiksa anak sendiri. Semarah marahnya saya, saya nggak akan menyayat anak sendiri (hohohoho... jadi ingat film wajib jaman orba, G 30 S/PKI) dan kemudian menjahitnya lagi dengan tusuk jelujur.

Memang, mereka terlalu cepat mengambil kesimpulan. Menghakimi hanya dari pandangan pertama tanpa mengenal siapa kami. Karena pada akhirnya, mereka semua tahu bahwa itu salah. Dan sadar.... malam ini malam Halloween!


Leah the gangsta's chick & Leonz the cool dude



Happy Halloween Everyone!!

Ps: modal lip liner dan pinsil eye liner untuk membuat luka jahitan di muka. Not bad, ey?

pps : baru tahu, ternyata setan Thai serem-serem lho. Mirip mirip kuntilanak, sendal bolong, serta penampakan penampakan di film film horror Indonesia.

Friday, October 24, 2008

tentang ras

Pernah nonton film futuristik nggak? Walaupun bukan jenis film kegemaran saya, tapi terkadang saya ikut (terpaksa) menemani swami nonton star war, enterprise, star war dan sejenisnya. Di film film tersebut sering digambarkan manusia ataupun karakter seperti manusia bukan hanya berbeda warna kulit, hitam, putih dan coklat, tapi juga berbeda dalam bentuk. Ada yang berbentuk setengah binatang bahkan setengah mahluk planet setengah manusia biasa. Walaupun tentu saja ada yang menjadi karakter yang jahat, tapi digambarkan mereka hidup berdampingan seperti biasa. Tidak takut dan asing melihat bentuk bentuk karakter yang berbeda beda.

Di kehidupan nyata tentu saja berbeda jauh. Waktu kecil dulu dan belum terbiasa melihat orang putih, saya suka ikut terbengong bengong melihat bangsa bule yang menurut saya saat itu.... wah putih dan tinggi banget (sumpah, saya nggak ikutan nyorakin "bule...! bule!!!" hehehe). Belum lagi, kok bisa ya.... hidung mancung begitu. Atau mencuri curi pandang penuh rasa penasaran ke tetangga ujung jalan asal Papua yang hitam dan keriting.

Menikah dengan swami yang berbeda ras, suku dan bangsa, membuat saya tadinya ikut merasa nggak nyaman saat suami saya diteriaki "bule.. bule!!" dan merasa jengah saat orang berbisik bisik "ono londo" sambil menunjuk suami saya atau saat keluarga suami mencuri curi pandang dengan tatapan penasaran ke saya (sang mahluk eksotik dari asia) ketika mudik pertama kali ke kampung suami. Namun seiring dengan perkembangan waktu serta pengalaman tinggal di negara yang mayoritasnya berbeda dan selalu memandang aneh-ingin tahu-penasaran ke orang yang tampak berbeda , membuat urat nggak nyaman saya putus. Saya terbiasa dan cuek pada akhirnya.

Produk yang menarik dari perkawinan antar ras adalah anak. Anak anak hasil perpaduan tersebut kebanyakan terlihat menarik secara fisik. Orang senang menilik nilik apakah si anak mirip ayah atau ibu, lebih cenderung asia atau caucasian.

Ada yang tahu nggak sebutan bahasa resmi untuk jenis ras campuran tersebut. Pernah saya bingung mengisi formulir di Imigrasi kita untuk Leonz. Bingung, di kolom pilihan isian tentang ras. Ingin mencontreng "caucasian" rasanya bukan deh. "Asia" juga nggak seratus persen. Akhirnya kita menambahkan kolom sendiri , "eurosian".

Saya sempat berpikir anak yang ayah dan ibunya berasal dari dua ras yang berbeda akan terbiasa melihat orang yang berbeda beda warna kulitnya. Tapi nggak berlaku buat dua anak hasil perkawinan ras campuran (asia & caucasia) di bawah ini. Si anak perempuan masih terbengong bengong takjub terkadang menangis kekejer melihat orang kulit hitam dan si anak laki laki selalu curi curi toel kulit dan rambut orang hitam, penasaran sepertinya.


Saturday, October 11, 2008

horoscope hari ini

Suami saya penggemar horoscope. Segala sesuatunya sering disangkut pautkan dengan ramalan bintang. Masalah keuangan, percintaan bahkan emosi suka ditilik lebih jauh lewat horoscope. Lucu deh, saking hobbinya maka di homepage google-nya penuh dengan link astrology gratisan.

Saya sendiri, antara percaya dan tidak percaya dengan ramalan bintang. Mosok iya sih, semua orang yang bertanggal lahir antara tanggal segini bulan ini sampai tanggal segini bulan mempunyai nasib dan pola kejadian yang sama. Apalagi ramalan bintang saya kebanyakan sering kali tidak menyenangkan. Makanya saya lebih suka membaca horoscope saya malam nya setelah hari yang diramalkan dilalui.

Dan daily horoscope saya hari ini, Pisces - Sabtu 11 Oct 2008 isinya...... :

The Moon in your sign allows you to wear your heart on your sleeve without appearing to be overly emotional. You don't need to say much; others just "sense" your inner feelings before you even open your mouth. And when you finally start to talk, your poetic speech can mesmerize everyone before they even know what hit them. Use your intuition wisely; don't squander your gift on meaningless chatter.


Kenyataan yang terjadi hari ini:

Saya sedang sakit. Menurut khun dokter di Bamrungrad, saya terkena upper respiratory infection (bahasa saya radang tenggorokan-ingusan-ditambah sedikit demam). Tadi pagi, di kamar mandi setelah batuk batuk sedikit, suami saya membawakan segelas teh panas. Kemudian kata pertama baby sitter -nya Leonz begitu melihat saya adalah , "Ma'am, are you sick?".....

Siang tadi saya mencoba potong rambut di salon baru. Khun stylist-nya (berambut gondrong acak acakan. Lebih mirip rocker daripada tukang salon) ternyata tidak bisa bahasa Inggris. Karena bingung menjelaskan dan nantinya malah nggak ngerti, akhirnya saya hanya bilang "volume!". Hasilnya... potongan rambut saya indah mengembang :-).

Seharian ini saya nggak perlu banyak ngomel ngomel ke anak anak. Suara saya habis. Cukup dengan ekspresi muka dan sorot mata penuh murka, anak-anak lumayan ngerti dan mengurungkan niat untuk melakukan hal hal yang nggak seharusnya serta melakukan hal hal yang sudah semestinya. Hanya dengan sekali suruh, Leonz tanpa banyak ba bi bu mau pakai sepatu sendiri. Dengan tiga kali "no" untuk Leah, walaupun sedikit melawan (baca: menggigit kaki saya) akhirnya berhenti menelfon operator (Leah sedang gemar main telfon rumah. Nomer favorit yang selalu dipencet adalah "0", operator hotel).

Ahhh... ternyata banyak benarnya *sambil lirik lirik swami yang lagi duduk di sofa nonton TV*. Sekali lagi saya ingin mencoba peruntungan berdasarkan horoscope hari ini *wink-wink*. Ganti baju dulu dengan celana pendek. Dan tanpa bicara saya akan duduk di sofa dan menjulurkan kaki pegal saya dipangkuannya. Mau minta pijet.....